Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2026 mencapai 6,03 persen, meningkat dibandingkan dengan realisasi 2025 yang tercatat sebesar 5,44 persen.
Optimisme tersebut didukung tren positif Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Mataram yang mencapai sekitar Rp26,1 triliun pada akhir 2025. Capaian itu menempatkan Mataram pada peringkat kesembilan dalam pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.
Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi melalui laporan dan data statistik yang diterima secara berkala. Berdasarkan data tersebut, pertumbuhan ekonomi Kota Mataram tercatat sebesar 5,44 persen pada 2025.
Ia optimistis pertumbuhan ekonomi dapat meningkat pada 2026 seiring dengan berbagai upaya pemerintah dalam mendorong sektor-sektor yang berpengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami berikhtiar supaya angka itu di penghujung tahun bisa signifikan naiknya,” ujar Mohan, pekan kemarin.
Mohan mengakui, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen juga menjadi salah satu sasaran yang terus diupayakan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu tolok ukur untuk melihat perkembangan PDRB, daya beli masyarakat, serta kaitannya dengan investasi.
Salah satu sektor yang diandalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Mataram adalah konstruksi. Sektor ini dinilai mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) karena menggerakkan berbagai aktivitas usaha, mulai dari penyerapan tenaga kerja, penyediaan material bangunan, jasa, perdagangan, hingga sektor pendukung lainnya.
Mohan mengatakan sejumlah proyek pembangunan berskala besar masih berjalan dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Pemerintah juga mendorong percepatan penyelesaian berbagai proyek strategis agar aktivitas konstruksi semakin meningkat.
Sejumlah proyek tersebut antara lain pembangunan Kantor Wali Kota Mataram atau Bale Mentaram dengan nilai Rp170 miliar, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo senilai Rp97 miliar, serta berbagai proyek infrastruktur perkotaan lainnya.
“Kalau konstruksi bergerak, tentu banyak sektor ikut bergerak. Ada tenaga kerja, ada kebutuhan material, ada jasa dan aktivitas ekonomi lainnya,” jelasnya.
Selain konstruksi, Pemkot Mataram menilai sektor perbankan turut berperan penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Perkembangan penyaluran kredit, investasi, dan aktivitas usaha masyarakat menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan ekonomi daerah.
Mohan menegaskan, Pemkot Mataram akan terus mengawal pelaksanaan proyek-proyek strategis sekaligus menjaga aktivitas ekonomi masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
“Kita optimistis. Mudah-mudahan berbagai ikhtiar yang kita lakukan bisa memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Mataram,” pungkasnya. (pan)



