EMPAT kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi lokasi hilirisasi ayam terintegrasi. Di antaranya Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, dan Lombok Tengah (Loteng). Bima dan Sumbawa menjadi lokasi peternakan pembibitan ayam indukan atau parent stock (PS) yang dilengkapi dengan fasilitas penetasan telur atau hatchery, dengan masing-masing 60 persen di Sumbawa, 40 persen di Bima.
Sementara Dompu menjadi lokasi pabrik pakan, dan Loteng menjadi lokasi industri berupa fasilitas pengolahan daging dan telur.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB, Muhamad Riady, mengatakan saat ini, pihaknya masih memprioritaskan penyelesaian pembangunan PS dan proses administrasi lahan melalui Hak Pengelolaan Lahan (HPL) di Bima dan Sumbawa sebelum melanjutkan rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Dompu.
“Sama tahapnya dengan di Sumbawa, dia segera menindaklanjuti hasil verifikasi itu. Baru nanti dia akan pengukuran, sedang proses di kantor pertanahan. Setelah jalan PS dan Hatchery yang di Bima dan Sumbawa, baru pabrik pakannya menyusul,” ujarnya, Minggu (11/10).
Setelah HPL diterbitkan, tahapan selanjutnya adalah pemenuhan kewajiban serta penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan PT Berdikari selaku BUMN yang membangun pabrik pakan tersebut. Setelah kesepakatan ditandatangani antara PT Berdikari dan Pemda, pembangunan fisik dapat dilaksanakan dengan target pembangunan mulai akhir tahun 2026.
“Kalau pabrik pakan itu belum intens kita diskusikan, belum intens kita yang kita konsentrasi masih di PKS sama HPL dulu. Nah setelah ini Parent Stock berproduksi, memproduksi DOC, kemudian peternak memelihara kan, kan ngambil DOC di sana, baru akan dibutuhkan pakan,” bebernya.
DOC atau Day Old Chick merupakan anak ayam umur sehari yang akan dipelihara oleh peternak. Ketersediaan DOC dari PS di daerah diharapkan dapat mendukung pertumbuhan populasi ternak sekaligus menciptakan kebutuhan pakan yang lebih besar.
Pembangunan pabrik pakan di Dompu, lanjutnya akan mempertimbangkan perkembangan produksi DOC dan kebutuhan peternak. Pasokan pakan dari luar daerah, khususnya Jawa Timur, dinilai berpotensi menambah biaya transportasi, sehingga keberadaan pabrik yang lebih dekat dengan sentra peternakan dapat menghemat biaya produksi.
Produksi dari dua kandang tersebut nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan DOC bagi peternak lokal. Seiring meningkatnya populasi ternak dan terpenuhinya kapasitas produksi, kebutuhan pakan akan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengembangan industri berikutnya.
Pembangunan pabrik pakan juga akan mempertimbangkan aspek kelayakan bisnis. Sebagai badan usaha milik negara (BUMN), PT Berdikari perlu memastikan investasi yang dilakukan didukung oleh hasil studi kelayakan yang memadai.
“Dan jelaskan, ini kan BUMN, pasti dia hasil studi kelayakannya harus visibel, baru dia berani bergerak, kalau nggak visibel ya harus ada kompensasi yang didapatkan kan kalau BUMN,” katanya.
Karena itu, waktu pelaksanaan pembangunan pabrik pakan belum dapat dipastikan karena masih bergantung pada perkembangan Parent Stock dan DOC, kebutuhan pasar, serta perhitungan kelayakan usaha.
Selain pembangunan PS dan pabrik pakan, pemerintah daerah juga mengusulkan pengembangan industri berupa fasilitas pengolahan daging dan telur di Loteng. Lokasi yang direncanakan masih berupa usulan dengan memanfaatkan lahan milik pemerintah daerah. Namun, pembahasan mengenai lokasi maupun rencana pembangunan fasilitas pengolahan tersebut belum dilakukan secara intensif.
Pengembangan industri peternakan ini direncanakan berlangsung secara bertahap, mulai dari pembangunan PS, dilanjutkan dengan pabrik pakan, kemudian fasilitas pengolahan hasil peternakan. Total nilai investasi untuk keseluruhan rencana pengembangan tersebut disebut mencapai Rp1,7 triliun. Angka tersebut mencakup keseluruhan rencana investasi di empat daerah.
“Mulai dari pembangunan PS dulu, baru pakan, baru nanti olahan. Kalau olahan di Loteng kan nanti dekat yang di Lombok Barat, Lombok Timur, Mataram untuk mengambil kan,” pungkasnya. (era)



