Mataram (Suara NTB) – Membangun budaya membaca tidak cukup dengan slogan, tetapi membutuhkan konsistensi. Prinsip inilah yang diterapkan SMPN 16 Mataram melalui Gerakan Literasi Sekolah yang dikemas sederhana namun dilaksanakan secara rutin setiap pekan.
Siswa dibiasakan membaca buku fiksi selama 40 menit setiap Rabu pagi mulai pukul 07.15 WITA sebelum kegiatan pembelajaran. Untuk mendukung kelancaran kegiatan, ketua kelas bertugas mengambil koleksi buku fiksi dari perpustakaan dan membawanya ke kelas masing-masing agar dapat dibaca bersama.
Rutinitas ini menjadi langkah sekolah dalam menumbuhkan minat baca sekaligus memberikan kesempatan bagi siswa untuk menikmati bacaan di luar buku pelajaran.
Kepala SMPN 16 Mataram, Burhanuddin menyampaikan bahwa suasana membaca di sekolah berlangsung cukup kondusif,karena didukung oleh jumlah siswa yang ideal di setiap kelas.
“Dengan jumlah murid sekitar 26 hingga 30 siswa per kelas, aktivitas membaca berlangsung kondusif, baik di dalam ruang kelas maupun di area sekitarnya,” kata Burhanuddin pekan kemarin.
Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah sempat mengalami penyesuaian. Saat sekolah masih menerapkan sistem enam hari sekolah, kegiatan literasi dipusatkan setiap Sabtu pukul 08.00-10.00 WITA bersama komunitas. Namun, seiring diterapkannya kebijakan lima hari sekolah, pola tersebut disesuaikan menjadi pembiasaan membaca rutin setiap Rabu pagi.
Selain kegiatan mingguan, sekolah juga sesekali menghadirkan tim perpustakaan daerah serta kelompok penggiat literasi untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Meski kolaborasi tersebut belum dituangkan dalam kerja sama formal, kegiatan tentatif yang berlangsung sekitar empat jam hingga waktu istirahat ini dinilai cukup efektif dalam membangkitkan semangat membaca siswa.
Burhanuddin menegaskan bahwa penguatan budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan alokasi waktu, tetapi juga harus didukung oleh akses terhadap bahan bacaan yang menarik dan beragam. Karena itu, buku fiksi dipilih sebagai sarana utama agar kegiatan literasi terasa menyenangkan dan tidak menjadi beban bagi siswa.
“Melalui penyediaan buku fiksi yang beragam, kami optimis gerakan literasi mampu membentuk budaya membaca yang berkelanjutan serta memperluas wawasan para siswa,” pungkasnya. (sib)



