Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa, mencatat hingga bulan Oktober sebanyak 75,35 hektar padi di tiga wilayah yakni Kecamatan Lape, Plampang, dan Sumbawa dipastikan gagal tanam. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode bulan September lalu sebanyak 45, 1 hektar.
“Total luas tanaman padi terdampak kekeringan 189,35 hektar. Dari jumlah tersebut hanya 16,95 hektar yang pulih dan masih pemantauan baik ringan. Sementara, kondisi sedang dan berat sekitar 94,08 hektar,” kata Kepala Bidang Perlindungan Tanaman dan, Pengembangan Usaha Pertanian Distan Kabupaten Sumbawa, Rusmini kepada Suara NTB, Selasa (13/10).
Selain itu, Dinas Pertanian juga mencatat sekitar 7,68 hektar tanaman padi mengalami rusak berat, 22 hektar mengalami kekeringan sedang dan 64,4 hektar mengalami kekeringan ringan. Lahan pertanian yang rusak berat, pihaknya bersama dengan BPP berupaya mencari sumber air untuk bisa dimanfaatkan demi menyelamatkan padi tersebut,tetapi melihat kondisi cuaca cukup ekstrem dan minimnya sumber air yang bisa dimanfaatkan potensi gagal panen masih cukup tinggi.
“Meski sangat minim sumber air yang bisa kita manfaatkan untuk menyelamatkan lahan tersebut, kami tetap berusaha agar tidak gagal panen agar petani tidak rugi,” ucapnya.
Pihaknya juga mencatat dari luas 39 hektar tanaman jagung terdapat 10 hektar tanam jagung di Kecamatan Lape dipastikan mengalami puso. Sementara 29 hektar yang sebelumnya terdampak kekeringan sudah diselamatkan dan tetap akan dilakukan pemantauan secara intensif di lapangan.
Berdasarkan data lanjutnya, total luas tanam padi di Kecamatan Lape yang terdampak kekeringan ada sekitar 87, 45 hektar dan jagung 39 hektar. Sementara di Kecamatan Plampang sebanyak 98,9 hektar berhasil atau tidak terdampak bencana. Di Kecamatan Sumbawa sekitar 3 hektar tanaman padi dipastikan gagal panen.
“Kami tetap akan memberikan atensi khusus terhadap lahan yang masih berpotensi untuk diselamatkan,sehingga para petani tidak terlalu merugi salah satunya dengan bantuan mesin pompa air,” terangnya.
Pemerintah menyiapkan skema penggantian bibit dan pemberian pupuk bagi petani. Tujuannya agar petani yang terdampak kemarau tidak mengalami kerugian yang cukup besar. Rencananya pupuk hasil sitaan sejumlah 10 ton akan dimanfaatkan untuk membantu petani. Tim mulai melakukan pendataan sebelum pupuk didistribusikan ke kelompok penerima manfaat. (ils)



