PELAKSANAAN program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Mataram perlu dievaluasi secara berkala, terutama terkait kualitas cita rasa, variasi, dan kesesuaian menu dengan selera anak-anak. Evaluasi dinilai penting agar makanan yang disediakan dapat diterima dan dikonsumsi siswa sehingga tidak terbuang sia-sia.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, Ni Luh Arini, mengatakan kondisi penerimaan siswa terhadap makanan MBG yang disampaikan di lapangan perlu menjadi bahan evaluasi bagi pelaksana program. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan standar gizi, tetapi juga kemampuan menu yang disajikan untuk menarik minat anak-anak.
“Tentu harus dievaluasi kembali agar sesuai dengan minat anak-anak. Jangan sampai makanan yang disediakan terbuang sia-sia karena tidak mau dikonsumsi anak-anak,” ujarnya kepada Suara NTB di Mataram, Kamis (22/10).
Arini menegaskan, masukan mengenai siswa yang belum bersedia mengonsumsi makanan MBG perlu diperhatikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan program. Dengan demikian, penyediaan makanan bergizi dapat berjalan sesuai tujuan tanpa mengabaikan kebiasaan makan dan preferensi penerima manfaat.
Politisi PDI Perjuangan ini juga menyoroti laporan Koordinator Wilayah (Korwil) MBG yang menyebutkan tingkat penerimaan siswa terhadap program tersebut hampir mencapai 90 persen. Sementara itu, sekitar 10 persen siswa lainnya disebut belum bersedia mengonsumsi makanan yang disediakan.
Menurutnya, persentase tersebut tetap perlu menjadi perhatian. Meski sebagian besar siswa menerima program MBG, kelompok siswa yang belum bersedia mengonsumsi makanan tidak boleh diabaikan.
“Walaupun angkanya 10 persen, tetap harus menjadi perhatian dan evaluasi juga,” tegasnya.
Arini mendorong penyelenggara MBG, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), untuk membuka ruang umpan balik dari siswa terhadap menu yang disajikan. Langkah ini dapat dilakukan dengan menghimpun tanggapan siswa mengenai rasa, jenis makanan, serta menu yang mereka sukai atau kurang diminati.
Masukan dari pihak sekolah dan orang tua juga dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan menu berikutnya. Dengan komunikasi yang baik, penyediaan makanan diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan gizi sekaligus selera anak-anak.
Anggota dewan dari daerah pemilihan Cakranegara ini menekankan, cita rasa perlu mendapat perhatian seiring pemenuhan kebutuhan gizi. Evaluasi tersebut diharapkan membantu meningkatkan penerimaan siswa terhadap MBG dan mengurangi potensi makanan terbuang, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh para penerima manfaat. (fit)



