Mataram (Suara NTB) – Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang berdampak pada penundaan masa tanam padi di sejumlah wilayah Kota Mataram pada Oktober 2026. Berkurangnya debit air pada saluran irigasi membuat petani menunda pengolahan tanah dan pembibitan karena khawatir ketersediaan air tidak mencukupi.
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Johari, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, sejumlah lahan sawah mengalami penundaan masa tanam. Meski demikian, hingga saat ini belum ada areal pertanaman yang mengalami kekeringan.
Menurut Johari, dampak El Nino sejauh ini baru berupa berkurangnya debit air irigasi sehingga petani belum dapat melakukan pengolahan tanah maupun pembibitan secara optimal.
“Dampak El Nino ini sebenarnya hanya berupa berkurangnya debit air di saluran irigasi. Petani memilih menunda tanam karena khawatir air tidak mencukupi,” ujarnya, Rabu (21/10).
Johari menyebutkan, lahan yang mengalami penundaan masa tanam tersebar di tiga kecamatan di Kota Mataram, dengan total luas mencapai 125 hektare. Wilayah terdampak terluas berada di Kecamatan Selaparang, tepatnya di Kelurahan Rembiga, dengan luas lahan mencapai 93 hektare.
Sementara itu, di Kecamatan Ampenan, luas lahan yang mengalami penundaan tanam mencapai 26 hektare. Rinciannya, 25 hektare berada di Kelurahan Ampenan Utara dan satu hektare di Kelurahan Ampenan Selatan.
Adapun di Kecamatan Cakranegara, penundaan masa tanam terjadi pada lahan seluas enam hektare yang tersebar di Kelurahan Sayang-Sayang, Cakranegara Utara, dan Karang Taliwang.
Para petani di wilayah terdampak tersebut diproyeksikan mulai melakukan penanaman pada November 2026, dengan mempertimbangkan kecukupan debit air irigasi.
“Penanaman di seluruh area terdampak kami proyeksikan baru dapat direalisasikan pada November 2026. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada ketersediaan debit air irigasi yang memadai,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah wilayah yang masih memiliki pasokan air irigasi mencukupi tetap melaksanakan penanaman padi pada Oktober ini. Salah satunya di kawasan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela.
Kendati terjadi penundaan masa tanam di sejumlah wilayah, Dinas Pertanian Kota Mataram tetap optimistis kondisi tersebut belum berdampak pada penurunan produksi padi. Pasalnya, penundaan tersebut belum disertai laporan kekeringan pada areal pertanaman.
Johari juga optimistis target produksi gabah kering giling (GKG) Kota Mataram pada 2026 sebesar 25.000 ton dapat tercapai. (pan)



