oleh: Lalu Gita Ariadi
What’s in a name? Kata William Shakespeare dalam pengggalan kisah cinta Romeo dan Juliet.
KH Zainudin MZ, da’i sejuta ummat menyebutkan bahwa : nama adalah Do’a dan juga pengingat peristiwa.
Lewat penantian yang panjang, akhirnya tanggal 5 Oktober 2026, bersamaan dengan peringatan HUT ke 81 TNI di Cilangkap, Presiden Prabowo Subianto meresmikan lahirnya Kodam XXX – Rinambora untuk teritorial NTB.
Ini sejarah. Kodam IX Udayana yang dulu membawahi 3 provinsi (Bali, NTB, NTT), kini satu per satu mandiri. Provinsi Bali tetap dengan Kodam IX – Udayana. Provinsi NTT jadi Kodam XXVII – Sobe Sonbai. Dan NTB jadi Kodam XXX – Rinambora.
Sebuah penataan yang logis sebagai antisipasi meningkatnya ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan ( ATHG ) keamanan dari dalam dan luar negeri. Ini bagian integral dari strategi revitalisasi TNI khususnya Angkatan Darat.
Pemberian nama Kodam XXX – Rinambora, tentu sudah melalui pertimbangan yang matang dari sisi filosofis, strategis dan estetis.
Nama itu tentu tidak asal comot. Rinambora adalah akronim dari Rinjani dan Tambora. Dua gunung legendaris. Dua iconik, dua pengingat bahwa NTB ini tanah yang dibentuk diatas ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Penuh resiko karena berada di daerah cincin api ( ring of fire ).
Menggabungkan dua nama Rinjani dan Tambora itu secara geopolitik sudah tepat dan proporsional. Menyatakan dan menyatukan Lombok dan Sumbawa dalam satu tarikan napas. Tidak ada yang merasa dianaktirikan. Rinjani mewakili Pulau Lombok dan Tambora mewakili Pulau Sumbawa.
Karena masih baru dan belum tersosialisasi, ada juga muncul celetukan. Nama Rinambora kurang pas. Mungkin karena ada kata Rina nya, seperti nama cewek. Terlalu feminin, padahal Kodam mestinya gunakan diksi maskulin.
Jangan salah. Feminin itu bukan berarti lemah. Ibu yang mengandung kita 9 bulan 10 hari itu simbol kekuatan dan cinta melawan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang sungguh bikin hidup sangat tidak nyaman.
Gunung Rinjani dan Gunung Tambora adalah Ibu sumber kehidupan masyarakat NTB. Gunung Rinjani adalah Ibu yang memberi air bagi orang Sasak. Tambora adalah Ibu bagi masyarakat Samawa, Dompu dan Mbojo.
Lalu ada yang usul jadi Rinbora. Lebih pendek, lebih keras, lebih maskulin. Ada yang bilang Rinbo mirip Rambo, aktor laga legendaris Sylvester Stallone. Biar musuh takut duluan dengar namanya.
Yang pasti, penggagas tentu punya filosofi beda. Tentara itu tidak butuh nama yang macho untuk ditakuti. Kodam yang ditakuti bukan karena namanya sangar, tapi karena rakyatnya cinta dan musuhnya segan.
Tentara Kodam XXX – Rinambora tidak butuh citra Rambo. Rambo itu tentara yang perang sendirian di hutan, melawan semua orang.
Tentara Rinambora kelak tidak boleh jadi Rambo. Tentara Rinambora dengan kekuatan dan cintanya harus jadi penjaga pulau, pembina teritorial, penolong saat gempa, banjir, dan kebakaran hutan. Tugasnya bukan hanya perang, tapi ikut membangun dalam fase rehab – rekon kala kebencanaan terjadi.
Tepat bila nantinya seiring terbentuknya Kodam XXX – Rinambora, hadir 5 Batalyon Teritorial Pembangunan di Bima, Sumbawa, Lotim, Loteng, dan Lobar.
Kodam XXX – Rinambora akan menjadi mitra strategis dan mitra setia masyarakat NTB kala suka dan duka tiba.
Rinjani dan Tambora historinya adalah letusan dahsyat yang memporak porandakan kehidupan dan tenggelamkan peradaban masyarakat beserta kerajaan yang sudah ada.
Dalam rangka mengenang, menggali peradaban yang terbenam bersama lahar panas letusan Gunung Tambora, saya teringat diskusi pemberian nama event Tambora Menyapa Dunia (2015).
Di diskusi- diskusi awal, saya bawa proposal event berjudul Tambora Mengguncang Dunia.
Kata “mengguncang dunia” secara denotatif sejati nya Gunung Tambora yang meletus pada 11 April 1815 adalah letusan paling mematikan dalam sejarah modern. Suaranya terdengar sampai Sumatera. Abunya bikin “Tahun Tanpa Musim Panas” di Eropa. Dari Sumbawa, Gunung Tambora benar-benar mengguncang dunia.
Makna konotatif nya, dengan event peringatan 2 abad meletusnya Gunung Tambora ini, kembali mata dunia diharapkan tertuju ke Gunung Tambora dan tertarik untuk datang baik sebagai wisatawan maupun sebagai investor untuk menanamkan modalnya di Kawasan Samota ( Perikanan di Teluk Saleh, Pariwisata di Moyo dan Pertanian-perkebunan di hamparan lereng Gunung Tambora ).
Dalam salah satu sesi diskusi, Wakil Gubernur NTB – H. Badrul Munir ( 2008 – 2013 ) sambil senyum tapi wajah serius menyampaikan. Miq, kalau bisa jangan gunakan kata / diksi mengguncang dunia. Kesannya destruktif. Cari diksi yang lebih soft, apalagi ini untuk kepentingan promosi pariwisata dan investasi. Nanti wisatawan dan investornya ketakutan. Tidak berani datang takut terguncang. Bagaimana kalau menjadi Tambora Menyapa Dunia ?
Setelah diskusi yang intens akhirnya disepakati nama patent event itu menjadi Tambora Menyapa Dunia.
Memang, what’s in a name ? Yang pasti, nama Rinambora sudah pas. Dia tidak perlu jadi Rambo yang impor dari Hollywood.
Tidak perlu jadi Rinbo nanti salah kaprah dengan branding kopi Rinjani Tambora nya Huzaini Areka – komunitas penggemar kopi NTB.
Rinambora, gabungan dua gunung raksasa yang pernah membuat dunia gemetar. Kini menyatu menjadi Kodam XXX – Rinambora, menjaga nusa seisinya.
Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama hanyalah kesementaraan yang sirna ditiup angin. Seseorang atau sesuatu di kenang bukan karena namanya tapi karena karya nya yang memberi manfaat.
Dan, kemanfaatan dari seorang tentara yang diharapkan adalah mampu menjaga, menolong dan melindungi serta memberi rasa aman bagi masyarakat.
Selamat datang, Kodam XXX – Rinambora. Dari Rinjani dan Tambora, tentara kesatria jaga Bumi Gora, Indonesia dan dunia.
Gedeng Gede Puyung
21.10.2026



