BerandaEKONOMI60 Persen Desa Berdaya NTB Pilih Usaha Peternakan

60 Persen Desa Berdaya NTB Pilih Usaha Peternakan


Mataram (Suara NTB) – Sektor peternakan menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengembangkan usaha melalui program unggulan Pemerintah Provinsi NTB, Desa Berdaya.


Dari total 257 desa yang menjadi sasaran program tahun 2026 ini, lebih dari 60 persen memilih sektor peternakan sebagai sumber penguatan ekonomi.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Muhammad Riadi, Jumat, 23 Oktober 2026, mengatakan tingginya minat terhadap usaha peternakan menunjukkan sektor ini dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi desa.


“Dari 60 persen yang memilih usaha peternakan ini. Ada yang memilih ternak ayam, sapi, dan jenis ternak lainnya,” jelas Riadi.


Menurutnya, Disnakeswan berperan memberikan dukungan teknis dalam pelaksanaan program peternakan di desa berdaya. Sementara itu, pengelolaan anggaran dan penyaluran bantuan berada pada organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani masing-masing skema Desa Berdaya.


Riadi menjelaskan, program Desa Berdaya memiliki pendekatan tematik dan transformatif. Pada pendekatan tematik, pengembangan usaha diarahkan untuk memperkuat kegiatan ekonomi produktif di desa, termasuk melalui pengelolaan peternakan yang melibatkan pelaku usaha berpengalaman.


Salah satu contoh yang telah dipantau dan mulai berproduksi berada di Desa Cendi Manik, Sekotong Lombok Barat. Usaha peternakan ayam petelur di desa tersebut memiliki populasi sekitar 1.000 ekor.


Dalam pengembangannya, peternak juga didorong bekerja sama dengan pelaku usaha profesional agar pengelolaan ternak, pemeliharaan, hingga pemasaran hasil produksi berjalan lebih terarah.


“Peternak yang mengelola usaha tersebut bekerja sama dengan pelaku usaha yang sudah berpengalaman. Ini penting agar usaha yang dikembangkan bisa berjalan dan berproduksi,” katanya.


Riadi menilai, kemitraan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan. Sebab, pengembangan usaha tidak cukup hanya dengan menyediakan modal dan ternak, tetapi juga harus ditopang pengetahuan teknis, manajemen pemeliharaan, serta kepastian pemasaran.


Selain unggas, usaha peternakan sapi juga masuk dalam pilihan masyarakat. Sejumlah kelompok usaha telah merealisasikan kegiatan peternakan, sedangkan sebagian penerima lainnya masih dalam tahap persiapan pembelian ternak.


Riadi mengatakan, pengembangan peternakan melalui Desa Berdaya diharapkan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Untuk skema tematik yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), usaha peternakan diharapkan menghasilkan keuntungan yang dapat memperkuat pendapatan dan kapasitas usaha BUMDes.


Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada bantuan awal, tetapi berkembang menjadi kegiatan usaha produktif yang mampu memberikan nilai tambah bagi desa.


“Harapannya, kapasitas BUMDes meningkat, usahanya berkembang, dan memperoleh keuntungan. Dari situ, kita ingin mendorong kemandirian ekonomi desa,” jelasnya.


Menurut Riadi, keberhasilan usaha peternakan sangat bergantung pada kesesuaian antara jenis usaha yang dipilih dan kemampuan penerima dalam mengelolanya. Karena itu, keterlibatan pelaku usaha profesional serta pendampingan teknis menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.


Disnakeswan NTB, lanjutnya, menyiapkan tenaga teknis untuk mendukung pengembangan usaha di desa. Personel pada bidang-bidang di lingkungan dinas juga diarahkan untuk terlibat dalam pendampingan sesuai kompetensi masing-masing.


Pendampingan tersebut dibutuhkan agar penerima program tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga dapat mengatasi persoalan pemeliharaan, pakan, kesehatan ternak, hingga pemasaran hasil produksi.


Selain memperkuat usaha produktif desa, pendekatan transformatif Desa Berdaya diarahkan untuk membantu keluarga miskin ekstrem meningkatkan pendapatan dan membangun kemandirian ekonomi.


Riadi mencontohkan pelaksanaan program di Lendang Nangka, Lombok Timur. Dengan modal sekitar Rp7 juta per kepala keluarga, penerima program dapat mengembangkan usaha ayam petelur skala kecil.


Dalam skema yang dijelaskan Riadi, modal tersebut digunakan untuk membeli sekitar 32 ekor ayam beserta kebutuhan pakan. Dengan asumsi tingkat produksi mencapai 80 persen, usaha itu diperkirakan dapat menghasilkan surplus sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per bulan yang ditabung oleh penerima manfaat.


“Kalau mereka tetap bekerja sebagai buruh tani, pekerjaan itu tidak harus ditinggalkan. Usaha ayam petelur bisa menjadi sumber pendapatan tambahan, sementara penghasilan dari buruh tani tetap digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.


Riadi menjelaskan, skema ini dirancang agar keluarga penerima manfaat memiliki sumber pendapatan tambahan yang dapat dikumpulkan secara bertahap. Tabungan menjadi salah satu indikator yang diharapkan tumbuh dari kegiatan ekonomi tersebut.


Untuk menjaga keberlangsungan usaha, program ini juga mengandalkan peran koordinator. Koordinator membantu mengatur pemberian pakan, pemeliharaan dan vaksinasi ayam, pengambilan telur, hingga pemasaran hasil produksi.
Hasil penjualan kemudian diperhitungkan setelah kebutuhan usaha dipenuhi. Surplus yang menjadi hak penerima manfaat dapat disisihkan ke dalam tabungan keluarga.


Menurut Riadi, pola pendampingan dan pengelolaan bersama ini penting karena keluarga sasaran tidak selalu memiliki pengalaman dalam menjalankan usaha peternakan.


“Keberhasilan program transformatif ini sangat bergantung pada koordinator yang mengatur pakan, vaksinasi, dan penjualan telur. Keluarga penerima manfaat tetap menjalankan kegiatan sederhana, seperti memberi makan ayam, sementara pengelolaan teknis lainnya dibantu koordinator,” jelasnya.


Riadi menyatakan optimistis usaha peternakan dalam program Desa Berdaya dapat berkembang apabila seluruh prasyarat keberhasilan dipenuhi. Pada usaha tematik, misalnya, kemitraan dengan peternak profesional menjadi salah satu upaya memastikan kegiatan produksi berjalan.


Sementara pada skema transformatif, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah ternak yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan keluarga penerima program mengembangkan pendapatan dan membangun tabungan.
Karena itu, Disnakeswan NTB berupaya mengoptimalkan tenaga teknis untuk memberikan pendampingan kepada desa-desa sasaran.


“Kita harus optimistis. Kalau tidak optimistis, untuk apa kita kerjakan? Tetapi tentu keberhasilan itu harus ditopang oleh syarat-syarat yang harus dipenuhi, termasuk kemitraan dan pendampingan,” tandasnya.


Melalui pendekatan ini, pengembangan peternakan diharapkan menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi produktif di desa sekaligus membuka peluang bagi keluarga miskin ekstrem untuk meningkatkan kesejahteraannya secara bertahap. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN
















VIDEO