Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), perlu mengawasi ketat peredaran makanan. Pasalnya, ciki ngebul diduga dijual bebas di Ibukota Provinsi NTB. Makanan mengandung nitrogen cair ini berbahaya bagi kesehatan.
Suara NTB menemukan penjual ciki ngebul di arena Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist (STQH) di Lapangan Karang Genteng, Lingkungan Karang Genteng, Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, Minggu (25/10) malam.
Pedagang dengan leluasa menjajakan makanan ringan yang disiram dengan nitrogen cair. Satu porsi ciki ngebul dijual Rp20 ribu. Makanan ini justru ramai digandrungi oleh anak-anak.
Rafa, seorang pengunjung di Lapangan Karang Genteng mengaku penasaran dengan makanan ringan yang mengeluarkan asap dan rasa dingin tersebut. Ia membeli seporsi kemudian mencoba menikmati bersama teman-temannya. “Rasanya dingin,” jawabnya singkat.
Ia mengaku tidak mengetahui ciki ngebul mengandung nitrogen cair. Rafa hanya penasaran kemudian mencoba mencicipi bersama teman-temannya. “Ndak tahu. Tadi penasaran saja,” katanya.
Jenis jajanan murah ini digemari sebagian besar anak-anak. Ciki ngebul ini tidak hanya memberikan rasa dingin, tetapi jjuga sensasi mulut yang mengeluarkan asap. Asap ini berasal dari liquid nitrogen yakni nitrogen yang berada dalam keadaan cair pada suhu yang sangat rendah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan dikonfirmasi melalui sambungan telepon enggan memberikan komentar mengenai penjualan ciki ngebul tersebut.
Ia menyerahkan sepenuhnya pengawasan terhadap kandungan makanan serta potensi gangguan kesehatan ditimbulkan dari jajanan yang mengandung nitrogen cair itu pada Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan. “Jangan Dikes saja. Kewenangan itu berada di BBPOM,” dalih Emirald.
Perihal potensi gangguan kesehatan untuk mengedukasi masyarakat agar menghindari jajanan ini, mantan Wakil Direktur RSUD Kota Mataram ini juga enggan memberikan komentar. Ia menyerahkan sepenuhnya ke BBPOM untuk ditindaklanjuti. “Nanti BBPOM pasti berkoordinasi dengan kita untuk menindaklanjuti temuan itu,” demikian Emirald. (cem)



