BerandaHEADLINEKampung Adat Sade Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Kampung Adat Sade Diusulkan Jadi Cagar Budaya


Mataram (Suara NTB) – Kampung Adat Sade yang terletak di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) diusulkan menjadi salah satu cagar budaya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pengusulan ini akan dilakukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Loteng.


Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan mengatakan, setelah segala proses pembangunan ulang desa yang hangus terbakar pada bulan Agustus 2026 lalu itu tuntas. Selanjutnya TACB akan bergerak mengupayakan kampung adat ini masuk daftar cagar budaya.


“Nanti proses cagar budayanya mulai dari Tim Ahli Cagar Budaya Lombok Tengah yang melakukan proses,” ujarnya, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Saat ini, rekonstruksi 75 rumah adat di Dusun Sade telah capai 55 persen. Pembangunan ulang puluhan rumah yang hangus terbakar itu, lanjutnya menjadi momentum pewarisan tradisi gotong royong dan keterampilan arsitektur tradisional kepada generasi muda.


“Sekarang yang terjadi itu (progres) 55 persen. Dari 75 bangunan, sisa 20 yang belum. Mungkin dalam bulan ini selesai untuk dasar bangunannya saja,” lanjutnya.


Ia mengapresiasi tingginya semangat gotong royong masyarakat lokal yang mengandalkan keahlian arsitektur tradisional mereka sendiri. Menariknya, proses rekonstruksi ini banyak melibatkan anak-anak muda setempat sehingga terjadi transfer pengetahuan dan pelestarian budaya secara langsung.
“Yang paling menggembirakan itu terjadi pewarisan keterampilan dalam konteks pelestarian dan perlindungan. Rumah adatnya dilestarikan, maestronya juga dilestarikan,” katanya.


Meski sebagian rumah sudah bisa ditempati, proses penyempurnaan terus dilakukan. Tim Satgas bersama para ahli akan melalukan kurasi ulang agar bentuk bangunan benar-benar mendekati arsitektur adat aslinya.
Selain itu, skema pembangunan juga disempurnakan dengan menyisipkan fasilitas utilitas modern yang ramah bencana.


“Karena masyarakat membangun secepatnya, nanti kita masukin drainase, listrik, dan utilitas pendukung lainnya supaya bangunan bebas bencana. Jadi kalau ada bencana lagi, bisa langsung berfungsi,” terangnya.


Pembangunan kembali Dusun Sade melibatkan kolaborasi pendanaan dari berbagai pihak, mulai dari swadaya masyarakat, bantuan publik, hingga fasilitasi Pemprov NTB dan Pemkab Loteng. Pemprov NTB juga tengah mendata seluruh bantuan yang masuk secara transparan.


Terkait dukungan dana pusat, Ihwan menyebutkan bahwa kebutuhan awal yang diusulkan mencapai sekitar Rp 25 hingga Rp 30 miliar. Namun, karena fisik bangunan dasar sudah dikerjakan masyarakat, biaya per rumah kini berkurang dari Rp 115 juta menjadi sekitar Rp 75 juta per unit.

Pada pembangunan kali ini, Pemprov NTB melalui Asisten II Setda NTB sekaligus Satuan Tugas (Satgas) Rekonstruksi Kampung Adat Sade, Lalu Moh. Faozal, mengatakan fokus pada keamanan di Dusun Sade dengan menambahkan empat item keamanan, seperti listrik, sanitasi dan drainase, APAR, dan toilet.


“Elektrikal ini akan kita desain yang lebih safety. Yang kedua untuk sanitasi dan drainase juga demikian, kita lakukan penataan. Yang ketiga untuk APAR, untuk kebakaran, kemudian yang terakhir untuk toilet umum dan rumah tangga itu akan kita lakukan penataan,” bebernya. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN
















VIDEO