Sumbawa (Suara NTB) – Pemerintah Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, memanfaatkan Program Desa Berdaya yang digagas Pemerintah Provinsi NTB untuk mengembangkan potensi wisata mangrove, budidaya kerang mutiara, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program ini diharapkan menjadi pengungkit ekonomi desa sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Kepala Desa Labuhan Burung, Iwan Iskandar Putra, mengatakan, pengembangan wisata dan budidaya kerang mutiara menjadi fokus utama program tersebut. Pemerintah desa menyiapkan pembangunan jalur tracking di kawasan mangrove dengan anggaran Rp150 juta, serta program budidaya kerang mutiara senilai Rp100 juta.
Menurut Iwan, pengembangan wisata mangrove diarahkan untuk meningkatkan daya tarik kawasan sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Fasilitas tracking direncanakan menggunakan bambu petung, sesuai rencana anggaran biaya (RAB) dan proposal yang telah disusun.
“Untuk wisata, kami akan mengembangkan program tracking mangrove. Fasilitasnya menggunakan bambu petung dengan anggaran Rp150 juta,” ujarnya.
Tidak hanya membangun sarana wisata, pemerintah desa juga menyiapkan peningkatan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pelatihan ini dinilai penting agar masyarakat memiliki kemampuan mengelola destinasi, memberikan pelayanan kepada pengunjung, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah desa berencana melibatkan kelompok peduli lingkungan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sumbawa, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar), serta pendamping desa sebagai mentor.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut juga diharapkan mendukung pengembangan gagasan taman bawah air yang telah dirintis. Dengan pengelolaan yang terencana, potensi wisata Labuhan Burung diharapkan tidak hanya menarik kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat.
Di luar sektor pariwisata, Desa Berdaya Labuhan Burung diarahkan untuk memperkuat potensi budidaya kerang mutiara. Pemerintah desa mengalokasikan anggaran Rp100 juta untuk program tersebut, yang pelaksanaannya akan dilakukan langsung oleh pemerintah desa dengan berkolaborasi bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Iwan menjelaskan, pola pengelolaan ini dipilih untuk memperkuat kerja sama kelembagaan desa dalam menjalankan program budidaya. Dengan demikian, pengembangan usaha tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi desa.
Sementara itu, dukungan terhadap pelaku UMKM diberikan melalui penyediaan barang sesuai kebutuhan usaha dan perencanaan anggaran. Bantuan tidak disalurkan dalam bentuk uang tunai maupun tambahan modal, melainkan berupa peralatan penunjang, seperti kompor gas dan perlengkapan usaha lainnya.
Pemerintah desa berharap dukungan tersebut dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan aktivitas produksi dan mengembangkan usaha sesuai potensi yang dimiliki.
Iwan menilai, Program Desa Berdaya memberikan peluang penting bagi desa untuk mengembangkan sektor unggulan di tengah keterbatasan anggaran yang tersedia. Menurutnya, ruang pembiayaan untuk pengembangan potensi ekonomi semakin dibutuhkan karena Dana Desa yang diterima saat ini harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelayanan masyarakat.
Ia menyebut Program Desa Berdaya sebagai “surga” bagi desa karena memberikan kesempatan untuk membiayai kegiatan pengembangan yang sulit dioptimalkan melalui anggaran rutin.
“Program Desa Berdaya ini adalah surga bagi desa. Kondisi desa sekarang tidak seperti beberapa tahun lalu karena Dana Desa yang kami terima sangat kurang. Dana yang ada harus digunakan untuk belanja rutin, termasuk insentif berbagai unsur pelayanan masyarakat,” katanya.
Keterbatasan anggaran tersebut, lanjutnya, membuat pemerintah desa harus menetapkan prioritas secara cermat. Kebutuhan rutin, seperti insentif ketua RT, ketua RW, guru ngaji, dan kader posyandu, tetap harus dipenuhi. Karena itu, program khusus untuk mengembangkan sektor ekonomi menjadi peluang bagi desa untuk tetap mendorong pembangunan di luar kebutuhan rutin.
Atas dasar itu, Iwan berharap Program Desa Berdaya dapat dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang. Keberlanjutan program dinilai penting agar desa memiliki kesempatan memperkuat sektor unggulan, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mengembangkan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang.
Pemerintah Desa Labuhan Burung bahkan menargetkan wilayahnya menjadi proyek percontohan atau pilot project pelaksanaan Desa Berdaya. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah desa memperkuat sinergi dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan.
Menurut Iwan, adanya mekanisme penilaian dalam program tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi desa untuk mengoptimalkan pelaksanaannya. Namun, ia menegaskan, manfaat program bagi masyarakat tetap menjadi hal utama, di samping peluang memperoleh penghargaan jika berhasil menjadi desa percontohan.
“Kami bersama BPD bersinergi agar Labuhan Burung bisa menjadi contoh. Ada penilaian khusus dan program ini diperlombakan. Jika keluar sebagai juara dan ditetapkan sebagai pilot project, akan ada penghargaan yang diberikan. Namun, di samping itu semua, Program Desa Berdaya ini adalah surga bagi desa,” ujarnya.
Melalui pengembangan wisata mangrove, budidaya kerang mutiara, dan penguatan UMKM, Labuhan Burung berharap potensi lokal dapat dikelola menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Pemerintah desa juga berharap program tersebut mampu memperkuat kemandirian masyarakat sekaligus menjadikan potensi desa sebagai modal pembangunan yang berkelanjutan. (bul)



