Mataram (Suara NTB) – Dukungan terhadap program unggulan Pemerintah Provinsi NTB, Desa Berdaya, dilakukan melalui penguatan usaha produktif masyarakat, mulai dari pendampingan produk berorientasi ekspor, peningkatan standar mutu, hingga pengembangan kemandirian pangan di desa.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB menyiapkan dua program yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa, yakni Desa Ekspor dan Desa Mandiri Pangan. Kedua program ini diharapkan mampu mendorong potensi lokal menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Kepala Disperindag NTB, H. Lalu Wiranata, mengatakan, pengembangan usaha masyarakat menjadi salah satu bentuk dukungan langsung terhadap pelaksanaan Desa Berdaya.
Pemerintah tidak hanya mendorong masyarakat memulai usaha, tetapi juga menyiapkan pendampingan agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas, kapasitas produksi, dan daya saing pasar.
“Untuk Desa Berdaya, kami mendorong hilirisasi. Kami inventarisasi terlebih dahulu potensi dan kemampuan produksi masyarakat. Kalau skalanya sudah memungkinkan untuk dikembangkan menjadi industri, kami akan masuk melalui pelatihan manajemen, peningkatan standar produk, dan fasilitasi sertifikasi,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan usaha di desa perlu disesuaikan dengan potensi dan skala produksi masing-masing wilayah. Usaha yang masih kecil dapat diperkuat melalui konsolidasi antardesa, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah lebih besar dan berkelanjutan.
Misalnya, potensi peternakan ayam, bebek, maupun usaha menjahit akan dipetakan untuk melihat peluang pengembangannya. Jika produksi satu desa belum memadai untuk menopang skala industri, pelaku usaha dari sejumlah desa dapat dihimpun agar kapasitas produksinya meningkat.
Disperindag NTB juga akan mengidentifikasi aspek industri dari desa-desa yang menerima dukungan keuangan melalui program Desa Berdaya. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai, termasuk peningkatan kualitas produk dan pemenuhan standar yang dibutuhkan pasar.
“Kalau produknya makanan, kami bisa memfasilitasi sertifikasi halal. Untuk produk yang membutuhkan Standar Nasional Indonesia (SNI), kami juga akan membantu fasilitasi pemenuhan standarnya,” jelasnya.
Salah satu program yang menjadi andalan Disperindag NTB dalam mendukung Desa Berdaya adalah Desa Ekspor. Program ini diarahkan untuk membawa produk unggulan masyarakat desa menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Wiranata menjelaskan, pihaknya sebelumnya menginventarisasi potensi produk dari 106 desa. Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 desa dengan produk potensial dipilih untuk mengikuti program pendampingan.
Selama sekitar lima bulan, sejak Juni hingga Oktober, para pelaku usaha mendapatkan pembinaan untuk memperkuat kemampuan pengelolaan usaha, pengolahan bahan baku, peningkatan kualitas produk, serta menjaga kesinambungan produksi.
Pendampingan tersebut penting karena pasar ekspor tidak hanya membutuhkan produk yang menarik, tetapi juga kualitas yang memenuhi standar pembeli dan ketersediaan barang dalam volume yang konsisten.
Dari 30 desa yang mengikuti program tersebut, enam desa telah melakukan transaksi ekspor. Produk dari keenam desa itu juga difasilitasi untuk mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Jakarta pada 14–18 Oktober 2026.
“Dari 30 desa yang kami dampingi, enam di antaranya sudah melakukan transaksi ekspor. Mereka juga kami ikutkan dalam Trade Expo Indonesia di Jakarta,” katanya.
Capaian tersebut menjadi pijakan untuk memperluas akses pasar bagi produk lokal NTB. Ke depan, pendampingan akan diarahkan agar pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan, sehingga peluang transaksi tidak berhenti pada penjualan awal.
Selain mendorong produk desa menembus pasar ekspor, Disperindag NTB menyiapkan program Desa Mandiri Pangan untuk memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dan energi.
Program yang direncanakan mulai berjalan pada November ini akan diuji coba di dua desa terlebih dahulu, dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya serta perlunya pematangan konsep bersama mitra terkait.
Dalam pelaksanaannya, Disperindag NTB akan bekerja sama dengan Perum Bulog dan Pertamina. Bulog diarahkan mendukung pemenuhan kebutuhan pangan, sedangkan Pertamina mendukung penyediaan energi, termasuk LPG untuk kebutuhan rumah tangga.
Dengan pola tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memperoleh kebutuhan pokok dan energi dengan harga terjangkau, tanpa harus selalu mencari pasokan ke luar desa.
Wiranata menegaskan, konsep Desa Mandiri Pangan masih dimatangkan agar peran setiap pihak saling melengkapi dan pelaksanaannya berjalan efektif.
Melalui Desa Ekspor dan Desa Mandiri Pangan, Disperindag NTB berupaya memperkuat dua sisi ekonomi perdesaan sekaligus: meningkatkan pendapatan melalui pengembangan usaha produktif dan memperkuat ketahanan rumah tangga melalui pemenuhan kebutuhan dasar.
Dukungan tersebut diharapkan membuat Desa Berdaya tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berkembang menjadi upaya membangun usaha masyarakat yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah dari potensi lokal, dan memperkuat kemandirian ekonomi desa. (bul)



