Taliwang (Suara NTB) – Program Desa Berdaya Pemerintah Provinsi NTB mulai dimanfaatkan Desa Air Suning, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, untuk membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah.
Sebanyak 540 kepala keluarga (KK) didorong memilah sampah dari rumah, mengolah limbah dapur melalui lubang biopori, serta menyalurkan sampah anorganik melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan bank sampah.
Langkah ini menjadi upaya Desa Air Suning mengubah persoalan sampah rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama, sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Dukungan Program Desa Berdaya digunakan untuk memperkuat sarana dan prasarana, disertai edukasi agar pemilahan sampah menjadi kebiasaan warga.
Kepala Desa Air Suning, Irwan Yuliono, mengatakan pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga dengan menyediakan tempat sampah khusus untuk sampah organik dan membangun biopori di lingkungan rumah warga. Melalui cara ini, limbah dapur diharapkan tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah sejak dari sumbernya.
“Pengelolaan sampah ini kami mulai dari rumah tangga. Kami berharap masyarakat terbiasa memilah sampah sehingga penanganannya bisa lebih mudah dan berkelanjutan,” ujar Irwan.
Sementara itu, sampah anorganik diarahkan untuk dikelola melalui BUMDes dan bank sampah desa. Pola tersebut diharapkan dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali sampah yang masih bernilai ekonomis.
Untuk menjalankan program ini, Desa Air Suning memperoleh dukungan Program Desa Berdaya dari Pemprov NTB sebesar Rp300 juta, ditambah dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat.
Irwan merinci, sebesar Rp150 juta dialokasikan untuk pengelolaan sampah. Desa itu juga memperoleh tambahan Rp50 juta dari Program Desa Berdaya serta insentif Rp70 juta atas keberhasilan menyinergikan program di tingkat kabupaten.
Dukungan turut datang dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumbawa Barat untuk pembangunan workshop pengolahan sampah organik. Fasilitas ini diharapkan memperkuat pengolahan sampah sekaligus mendukung keberlanjutan program di tingkat desa.
Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, mengapresiasi upaya Desa Air Suning yang memanfaatkan Program Desa Berdaya untuk memperkuat pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Saat meninjau pelaksanaan program tersebut, Umi Dinda, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa penanganan sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana dan prasarana. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci agar fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Menurutnya, anggaran yang tersedia perlu diikuti edukasi yang konsisten, terutama untuk membiasakan warga memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Tantangan terbesar justru terletak pada membangun kesadaran masyarakat agar pemilahan sampah dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika program berlangsung.
“Pengelolaan bank sampah yang paling utama adalah mengedepankan edukasi masyarakat agar sadar dan terbiasa memilah sampah. Memang tidak mudah, terutama untuk sampah organik,” kata Indah.
Ia mengingatkan, persoalan sampah harus ditangani sejak dini melalui perencanaan dan pengelolaan yang terpadu. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang memadai, timbunan sampah berpotensi menjadi ancaman serius bagi daerah dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Karena itu, pemerintah desa dan kelurahan didorong memanfaatkan Program Desa Berdaya untuk membangun sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas. Pendekatan tersebut dinilai penting agar dukungan anggaran tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam kebiasaan masyarakat. (bul)



