BerandaHEADLINEPanas Ekstrem, Pemprov NTB Sebut Hanya 2,5 Hektare Lahan Gagal Panen

Panas Ekstrem, Pemprov NTB Sebut Hanya 2,5 Hektare Lahan Gagal Panen


Mataram (Suara NTB) – Di tengah kemarau ekstrem, Pemprov NTB mengklaim hanya ada 2,5 hektare lahan sawah di NTB yang mengalami puso atau gagal panen. Berdasarkan data yang diungkapkan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) NTB, lahan yang mengalami gagal panen yaitu Desa Pelambik di Kecamatan Praya Barat Daya sekitar setengah hektare, Desa Ranggagata dan Ungga masing-masing satu hektare.


“Itu doang laporannya, cuma 2,5 hektare. Itu yang puso,” ujar Kepala Distanpangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah pekan kemarin.


Sementara, lahan yang terdampak kekeringan di NTB mencapai ratusan hektare. Hampir seluruh daerah di provinsi ini terdampak kekeringan. Seperti di Lombok Barat dilaporkan sekitar 150-170 hektare lahan, belasan hektare lahan di Ungga, Lombok Tengah.


Selanjutnya 186 hektare lahan terdampak kekeringan dan Sumbawa, hingga delapan kecamatan di Lombok Timur menunda musim tanam akibat kekurangan air hujan.


Meski kemarau ekstrem memicu gagal panen hingga kekeringan lahan yang cukup parah, Mirza meminta masyarakat membedakan lahan yang terdampak kekeringan dengan lahan yang benar-benar mengalami puso.
Menurutnya, tanaman yang terdampak kekeringan belum tentu gagal panen karena masih berpeluang diselamatkan melalui penanganan teknis. “Jadi, yang gagal panen yang dibilang ratusan hektare itu tidak ada. Itu terdampak namanya, dan terdampak itu belum berarti gagal, masih bisa diselamatkan,” tegasnya.


Meski begitu, Mirza tidak menampik adanya kekeringan yang berdampak pada sejumlah areal persawahan di NTB. Namun, ia menegaskan lahan terdampak tidak bisa langsung dikategorikan sebagai lahan puso.
“Yang gagal panen pasti ada, tetapi jumlahnya kecil. Terdampak itu belum gagal, masih bisa diselamatkan,” tambahnya lagi.

Kemarau Ekstrem Tak Ganggu Produksi Padi



Di samping itu, ia memastikan kemarau panjang yang melanda hampir seluruh wilayah NTB tidak berdampak signifikan terhadap produksi padi. Hingga saat ini, produksi gabah kering giling (GKG) di NTB tercatat mencapai 1,687 juta ton atau mendekati capaian produksi sepanjang 2025 yang mencapai 1,7 juta ton.


Pihaknya optimis produksi padi tahun ini dapat melampaui capaian tahun sebelumnya. Optimisme tersebut didukung oleh sisa waktu satu bulan untuk mengejar target produksi serta ketersediaan stok beras di gudang Bulog yang telah mencapai 200.000 ton.


“Sekarang produksi padi kita sesuai Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistika (KSABPS), 1.687.000 gabah kering giling. Jadi kalau kita merujuk ke tahun 2025, kita kan 1,7,” katanya.

Ia menyebut, capaian produksi saat ini sudah hampir menyamai produksi tahun lalu. Dengan demikian, pemerintah daerah menilai kondisi produksi di tingkat hulu masih aman meski sejumlah wilayah menghadapi dampak kekeringan.
“Jadi sudah hampir sama lah, tinggal 1 bulan insya Allah kita bisa melampaui. Jadi kalau dari segi produksi di hulu, sudah aman. Kemudian di gudang Bulog, kita sudah mencapai 200.000 ton beras,” lanjutnya.


Meski demikian, Pemprov NTB mengakui kemarau panjang tetap memberikan dampak terhadap sektor pertanian. Namun, dampak tersebut dinilai relatif kecil karena petani mulai melakukan adaptasi dengan menyesuaikan jenis komoditas yang ditanam berdasarkan ketersediaan air.


“Ya, ada pengaruh tapi sedikit. Karena sudah ada substitusi, adaptasi komoditi. Jadi menanam tanaman disuaikan dengan kebutuhan air,” jelasnya.


Menurutnya, padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup. Karena itu, petani di wilayah yang mengalami keterbatasan air didorong menyesuaikan pilihan komoditas dengan kondisi lahan, seperti jagung dan tanaman hortikultura.
“Kalau padi ya perlu ada air, kalau yang lain disuaikan dengan jagung, tembak, kol, segala macam,” pungkasnya. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO