BerandaBIMAKrisis Air Bersih di Kabupaten Bima Belum Berakhir

Krisis Air Bersih di Kabupaten Bima Belum Berakhir

Bima (Suara NTB) – Hujan yang mulai mengguyur wilayah Bima belum mengakhiri krisis air bersih akibat kekeringan panjang di Kabupaten Bima. Hingga Oktober 2026, sebanyak 13.269 jiwa atau 4.269 kepala keluarga (KK) di 27 desa pada delapan kecamatan terdampak kekeringan. Sejumlah 1.595.000 liter air bersih telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bima, Abdul Muis, mengatakan penyaluran air bersih dilakukan sejak Mei hingga Oktober 2026. Selama periode tersebut, pihaknya mencatat 319 rit pengangkutan air bersih ke wilayah terdampak.

“Kalau sampai sekarang sebanyak 4.269 kepala keluarga (KK) atau 13.269 jiwa terdampak kekeringan. Kami sudah memberikan layanan penyaluran air bersih,” katanya pada, Rabu (4/11).

Besarnya kebutuhan air bersih terlihat dari frekuensi distribusi ke sejumlah desa. Di Kecamatan Palibelo, Desa Nata tercatat menerima 56 rit air bersih. Sedangkan, Desa Belo empat rit. Di Kecamatan Woha, distribusi ke Desa Waduwani mencapai 34 rit dan Desa Talabiu sebanyak 11 rit.

Sementara di Kecamatan Belo, Desa Roka menerima 34 rit dan Desa Runggu 11 rit. Adapun di Kecamatan Bolo, penyaluran ke Desa Rasabou dan Sanolo masing-masing delapan rit.

Abdul Muis mengakui kekeringan pada 2026 lebih parah dibandingkan dua tahun sebelumnya. Hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Bima terdampak, terutama wilayah Palibelo dan Woha. Sejumlah desa di dua kecamatan tersebut, kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan minum dan memasak.

Bendungan Roiroka dilaporkan mengering akibat kemarau panjang. Kondisi itu turut memperberat pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

“Hampir setiap hari kami membawa air bersih untuk masyarakat. Para anggota hampir setiap malam baru bisa pulang setelah menyalurkan air bersih,” ujarnya.

Selain besarnya kebutuhan masyarakat, BPBD juga menghadapi keterbatasan mobil tangki untuk mendistribusikan air. Penyaluran selama ini turut dibantu Polres Bima, PMI, dan bank daerah yang memberikan dukungan armada tangki air bersih.

Di sisi lain, hujan yang mengguyur wilayah Bima pada akhir pekan lalu belum menjadi tanda berakhirnya musim kemarau.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Sultan Muhammad Salahuddin BMKG Bima, Moch. Syaiful Annas, menjelaskan hujan tersebut dipicu aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial di wilayah NTB serta tingginya kelembapan udara pada lapisan 700 hPa yang mencapai 80 hingga 90 persen.

“Kombinasi kedua faktor tersebut memicu hujan lokal yang bersifat sporadis, artinya hujan turun sesekali dengan durasi singkat dan sebaran yang tidak merata,” kata Syaiful.

Ia menegaskan, hujan singkat tersebut belum berdampak signifikan untuk mengurangi kekeringan maupun mengubah karakteristik musim kemarau yang sedang berlangsung.

Dengan kondisi tersebut, hujan yang mulai turun belum dapat dijadikan penanda pulihnya ketersediaan air bersih di wilayah terdampak kekeringan. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO