Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan Kota Mataram mengumpulkan seluruh distributor, Rabu (4/11). Pasalnya, stok beras premium di ritel modern mengalami penurunan atau berkurang. Pengusaha mengurangi pasokan akibat nilai produksi lebih tinggi dari nilai jual.
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida membenarkan pihaknya telah mengumpulkan seluruh distributor termasuk retil jaringan di Kota Mataram, untuk memastikan informasi beras premium mengalami kekosongan. Kekosongan stok dipicu pengusaha mengurangi pasokan dari 200 sak beras menjadi 50 sak. Sementara, kebutuhan masyarakat sangat tinggi sehingga dikhawatirkan memicu kepanikan. “Pasokan 50 kantong beras premium ini belum satu jam sudah habis,” kata Nida dikonfirmasi, Rabu (4/11).
Distributor beras premium mengurangi pasokan ke ritel modern, karena nilai produksi mereka lebih tinggi dibandingkan nilai jual. Sedangkan, pemerintah pusat telah mematok harga eceran tertinggi (HET) beras premium Rp14.900 per kilogram. Nida mengatakan, distributor yang memiliki penggilingan padi berpeluang memenuhi kebutuhan masyarakat meskipun harga gabah mahal. “Kalau UMKM ini tidak mungkin menutupi biaya produksi, karena mereka juga harus membeli plastik dan upah pekerja,” jelasnya.
Langkah antisipasi yang dilakukan lanjut Nida,akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Provinsi NTB untuk memastikan pasokan beras premium di retail modern terpenuhi. Kekosongan pasokan beras premium juga dikeluhkan distributor jaringan.
Nida menambahkan, distributor jaringan hanya menjual beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) dinilai minim pembeli. “Bulog juga nanti akan mendistribusikan beras SPHP ke pasar tradisional,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap tenang. Pemerintah akan mengupayakan ketersediaan barang pokok termasuk beras premium. Pemenuhan kebutuhan masyarakat dilakukan melalui operasi pasar rakyat di enam kecamatan. “Insya Allah, pasar rakyat kita akan mulai gelar pekan depan,” demikian kata Nida. (cem)



