Giri Menang (Suara NTB) – H. Saeful Ahkam resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji dalam Sidang Disertasi Program Doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam (S3), di Aula Lantai II Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Kamis (5/11/2026).
Disertasinya mengangkat tema Pola Hubungan Multidimensional Moderasi Beragama: Analisis Korelasi Bivariat dan Parsial Komitmen Kebangsaan, Toleransi, Antikekerasan, dan Penerimaan Kearifan Lokal Warga SMA IT pada Jaringan Sekolah Islam Terpadu di NTB. Dalam penelitiannya, Ahkam mengkaji moderasi beragama melalui empat dimensi utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap kearifan lokal.
Keempat dimensi dianalisis untuk mengetahui pola hubungan, kekuatan keterkaitan, serta konsistensinya setelah pengaruh dimensi lainnya diperhitungkan.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional non-eksperimental dengan metode survei. Sebanyak 331 responden dilibatkan dari populasi 1.919 warga pada enam SMA Islam Terpadu yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Nusa Tenggara Barat.
Data penelitian dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan korelasi parsial. Hasilnya menunjukkan seluruh pasangan dimensi memiliki hubungan positif dan signifikan secara statistik dengan nilai p < 0,001. Pada analisis korelasi bivariat, hubungan antardimensi berada pada rentang 0,779–0,855. Sementara itu, setelah dua dimensi lainnya dikendalikan melalui analisis korelasi parsial, kekuatan hubungan berada pada rentang 0,225–0,451.
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah hubungan antara antikekerasan dan penerimaan kearifan lokal yang memiliki koefisien terbesar dalam kedua analisis, masing-masing 0,855 pada korelasi bivariat dan 0,451 pada korelasi parsial. Sebaliknya, hubungan antara toleransi dan antikekerasan menunjukkan koefisien parsial terkecil, yakni 0,225. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keempat dimensi moderasi beragama saling berkaitan, tetapi memiliki kekuatan hubungan yang tidak seragam.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa moderasi beragama tidak cukup dipahami melalui satu aspek saja. Pengembangannya dalam pendidikan Islam perlu memperhatikan keterpaduan keempat dimensi tersebut dengan tetap mempertahankan tujuan dan indikator masing-masing.
Dengan demikian, kesimpulan tersebut mendukung pemahaman multidimensional secara konseptual dan menjadi dasar pengujian lebih lanjut, tanpa menyamakan semua dimensi atau menetapkan sebab akibat.
Di luar capaian akademiknya, Saeful Ahkam juga mengemban jabatan sebagai Asisten I Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Perjalanan pendidikannya memperlihatkan lintasan keilmuan dari filsafat menuju pendidikan agama Islam. Pendidikan sarjana ditempuh di IAIN Sunan Kalijaga pada Program Studi Akidah dan Filsafat pada 1999.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam bidang Ilmu Filsafat pada 2002, sebelum menyelesaikan pendidikan doktoral pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Mataram.
Perpaduan latar belakang keilmuan filsafat dan pendidikan agama Islam menjadi bagian menarik dari perjalanan akademiknya.
Kedua bidang tersebut memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam memahami persoalan keagamaan, pemikiran, dan pendidikan. Disertasi ini juga menempatkan konteks pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat sebagai bagian penting penelitian. Keragaman sosial dan budaya masyarakat NTB menjadi latar yang relevan dalam mengkaji bagaimana nilai-nilai moderasi beragama terbangun dan saling berhubungan di lingkungan pendidikan Islam terpadu.
Capaian akademik Saeful Ahkam sekaligus menambah khazanah penelitian pendidikan agama Islam, khususnya kajian empiris mengenai pola hubungan multidimensional moderasi beragama di lingkungan sekolah Islam terpadu di NTB. (her)



