Selong (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) akan menjadi tuan rumah kegiatan seminar dan pameran teknologi pangan tingkat Asia Tenggara yang dijadwalkan berlangsung pada 11–12 November 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, ini diharapkan menjadi momentum mendorong hilirisasi produk pertanian lokal agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu menembus pasar regional.
Demikian dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, H. M. Juaini Taofik kepada media. Sekda mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pangan Universitas Mataram (Unram). Bahkan, Menteri Pertanian Republik Indonesia dijadwalkan hadir pada 11 November 2026 di Unram.
Selain agenda di kampus Unram, Bupati Lotim juga dipastikan akan berkenan membuka expo UMKM sekaligus berdialog dengan para pelaku usaha yang terlibat dalam pameran di Desa Jeruk Manis.
Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan berskala Asia Tenggara di Lotim menjadi peluang strategis bagi daerah, terutama dalam mempercepat pengembangan hilirisasi sektor pertanian. Selama ini, Lotim dikenal sebagai daerah penghasil berbagai bahan baku pertanian, baik untuk kebutuhan pangan maupun bahan baku produk lainnya.
Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah karena sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Melalui teknologi pangan, berbagai komoditas lokal yang selama ini dianggap memiliki nilai ekonomi rendah dapat diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Bahkan, peluang pemasarannya tidak hanya terbatas pada pasar lokal dan nasional, tetapi juga dapat diperkenalkan ke pasar Asia Tenggara.
Juaini menyebutkan, salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut merupakan guru besar dari perguruan tinggi di Jepang. Kehadiran akademisi dan peserta dari berbagai negara diharapkan dapat memberikan wawasan serta terobosan baru dalam pengembangan produk pangan berbasis potensi lokal.
“Momentum menjadi tuan rumah ini penting. Ada istilah tak kenal maka tak sayang. Ketika orang luar melihat potensi pangan kita, bisa jadi sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi setelah diolah,” katanya.
Meski belum mengetahui secara terperinci jenis komoditas yang akan ditampilkan dalam pameran tersebut, Juaini berharap kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus pertukaran pengetahuan bagi pemerintah daerah, pelaku UMKM, petani, dan masyarakat. (rus)



