Mataram (suarantb.com) – Seorang Oknum Warga Negara (WN) Selandia Baru resmi dilaporkan ke Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Dit PPA-PPO) Polda NTB.
Direktur Dit PPA-PPO, Kombes Pol Ni Made Pujawati pada Jumat (30/1/2026) mengatakan, Oknum WNA pemilik sebuah hotel di Sekotong, Lombok Barat itu dilaporkan atas dugaan kekerasan seksual fisik dan perbudakan seksual.
“(Laporan) kami terima Kamis sore kemarin (29/1/2027),” katanya.
Pujawati mengatakan, saat ini pihaknya telah mulai melakukan verifikasi atau telaah awal terhadap laporan tersebut.
Keempat terduga pelaku melapor ke Polda NTB didampingi oleh Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Mataram (Unram).
Ketua BKBH Unram, Joko Jumadi membenarkan pihaknya mendampingi empat korban melapor ke Dit PPA-PPO. Dari empat korban tersebut, tiga merupakan perempuan dan satu laki-laki.
“Dalam laporan kami lampirkan bukti chat (korban dan terduga pelaku), foto, video, dan ada saksi juga,” tutur Joko.
Terungkapnya kasus ini kata dia, setelah empat orang korban datang meminta perlindungan hukum kepada pihaknya.
Salah satu korban kata Joko, telah mengenal terduga pelaku sejak lama. Oknum WN Selandia Baru itu sempat mengajak korban menikah. Sehingga korban selanjutnya mengajak dua temannya untuk bertemu terduga pelaku.
Saat mereka bertemu, terduga pelaku kemudian memaksa mereka untuk melakukan hubungan seksual bertiga. “Ada dua perempuan dengan si pelaku. Atau dua laki-laki dengan satu perempuan,” sebutnya.
Joko menyebutkan, para korban mengaku mengalami dugaan kekerasan seksual pada periode Juli dan September 2025 lalu. Menurut Joko, terduga pelaku dan istrinya diduga memiliki kelainan seksual. Mereka diduga memiliki fantasi tidak seperti orang pada umumnya.
“Pelaku punya fantasi, ketika dia melihat orang atau pasangan orang, ingin melakukan persetubuhan. Dia (pelaku) punya istri, istrinya juga begitu,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram itu.
Menurut Joko, perilaku Oknum WN Selandia Baru itu mengarah kepada Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Dugaan penyimpangan seksual tersebut saat ini menjadi atensinya.
“Kita punya videonya. Penyimpangan seksual ini kok ada dan menyita perhatian. Ini yang kemudian kami dalami,” tandasnya. (mit)


