Mataram (suarantb.com) – Pertumbuhan ekonomi NTB di tahun 2025 menempati posisi tiga terendah dari 38 provinsi di NTB. Sepanjang tahun 2025, ekonomi NTB tumbuh 3,22 persen (year on year), berada di posisi 36 dari 38 provinsi. Rendahnya posisi NTB di daftar pertumbuhan ekonomi nasional menjadi sorotan, apalagi daerah ini dinobatkan sebagai lumbung pangan nasional, ditambah dengan adanya salah satu perusahaan tambang terbesar PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS), lima provinsi dengan ekonomi terendah di antaranya Papua Tengah yang mengalami kontraksi hingga -21,80 persen, Aceh 2,97 persen, NTB 3,22 persen, Sumatera Barat 3,37 persen, dan Papua Selatan 3,39 persen.
Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Lalu Mohammad Faozal mengaku tidak mengetahui kondisi menyusutnya NTB dalam daftar pertumbuhan ekonomi. Namun, pihaknya mengaku akan melakukan identifikasi penyebab NTB berada di urutan tiga terbawah.
“Ini tahun pertama. Iya nanti kita lihat apa penyebabnya. Kita akan identifikasi penyebab,” katanya.
Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistika (BPS) NTB, Wahyudin menjelaskan pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi NTB tembus hingga 7 persen. Namun, dalam RPJMD, NTB menargetkan sekitar 6-6,5 persen. Akan tetapi, pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi hanya menyentuh 3,22 persen.
Kondisi ini, lanjutnya dipengaruhi oleh ekonomi NTB yang sempat kontraksi di triwulan pertama dan kedua. Pada Maret 2025 lalu, BPS NTB mengumumkan NTB mengalami kontraksi terdalam hingga -1,43 persen. Kemudian di triwulan kedua, terjadi lagi kontraksi hingga 0,28 persen.
“Jadi dari satu ke dua itu kita minus gitu pertumbuhan ekonomi kita. Kenapa dia minus? Karena memang secara PDRB kita kan nomor dua itu dari tambang,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, pertanian menjadi sektor utama pengendali ekonomi NTB, disusul oleh pertambangan. Dengan belum optimalnya operasional di Smelter AMNT, serta adanya larangan ekspor konsentrat, ekonomi NTB jatuh di triwulan pertama dan kedua.
“Smelter kan belum mampu mengoptimalkan semaksimal mungkin. Hanya 30-35 persen,” katanya.
Kendati sempat minus, Wahyudin mengaku jika sektor tambang dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai sekitar 8 persen. Adapun dengan kondisi ini, ia optimis pertumbuhan ekonomi 2026 akan lebih tinggi. Hal ini karena ekonomi NTB merosot selama dua triwulan.
“Kalau tahun lalu tidak ada ekspor, sekarang ada ekspor, otomatis secara year on year akan terlihat meningkat,” ungkapnya.
Tahun 2024, Pertumbuhan Ekonomi NTB Tembus 5,3 Persen
Di tahun 2024 lalu, pertumbuhan ekonomi NTB tembus 5,3 persen. Perekonomian NTB berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Triwulan IV-2024 mencapai Rp44,84 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp26,73 triliun.
Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB Triwulan IV-2024 jika dibandingkan dengan Triwulan III-2024 (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 4,97 persen. Sementara jika dibandingkan dengan Triwulan IV-2023 (y-on-y) mengalami kontraksi 0,50 persen. Sedangkan secara kumulatif, yang berarti sepanjang tahun 2024, ekonomi Provinsi NTB tumbuh sebesar 5,30 (c-to-c).
Secara tahunan, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami kontraksi terdalam sebesar 16,84 persen (y-on-y). Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami kontraksi terdalam sebesar 41,43 persen.
Sementara itu, secara kumulatif, bila dilihat dari sisi Produksi, pertumbuhan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 11,66 persen (c-to-c). Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Provit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 11,26 persen. (era)


