Bima (Suara NTB) – Bencana hidrometeorologi kembali melanda wilayah Kabupaten Bima, Rabu, 25 Februari 2026. Intensitas hujan sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang terjadi sejak pukul 16.00-18.00 WITA, memicu banjir dan longsor di sejumlah kecamatan. Lima desa terdampak banjir dengan ratusan kepala keluarga terdampak.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda, menyampaikan banjir yang melanda Kabupaten Bima tersebar di Kecamatan Langgudu, Bolo, dan Madapangga. Banjir ini dipicu hujan lebat yang terjadi sejak Rabu sore, sehingga terjadi debit air tinggi di wilayah pegunungan.“Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat menyebabkan peningkatan debit air dari wilayah pegunungan sehingga terjadi banjir di beberapa desa,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Di Kecamatan Bolo, banjir terbesar terjadi di Desa Nggembe. Luapan sungai merendam permukiman dan lahan pertanian dengan ketinggian air 10-40 sentimeter. Sebanyak 204 kepala keluarga terdampak dengan 177 unit rumah terendam di Dusun Jala dan Dusun Wa’itawoa. “Banjir telah surut dan warga mulai membersihkan lumpur dari rumah masing-masing,” jelasnya.
Kecamatan Bolo, banjir juga melanda Desa Rato akibat drainase tidak mampu menampung debit air. Sebanyak 12 kepala keluarga atau 40 jiwa terdampak dan 15 rumah terendam. Genangan air sempat mengganggu akses jalan lingkungan. “Setiap hujan wilayah ini selalu terdampak karena kapasitas drainase terbatas dan tersumbat sampah,” jelas Nurul Huda.
Sementara di Kecamatan Madapangga, banjir terjadi di Desa Rade, Monggo, dan Ncandi. Genangan air setinggi 10-30 sentimeter merendam permukiman serta mengganggu arus lalu lintas menuju Bolo-Dena. “Di Desa Monggo tercatat 34 kepala keluarga atau 105 jiwa terdampak dengan 34 rumah terendam, sementara di Desa Ncandi sebanyak tujuh kepala keluarga terdampak dengan tujuh rumah terendam. Kondisi banjir berangsur surut pada malam hari,” tuturnya.
Selain banjir, longsor terjadi di Jalan Lintas Tente-Karumbu, Desa Waworada, Kecamatan Langgudu. Material tanah dan pohon tumbang sempat menutup badan jalan dan menghambat arus kendaraan. Warga melakukan pembersihan secara swadaya hingga lalu lintas kembali normal.
Dari peristiwa tersebut kata Nurul Huda, dipastikan tidak ada korban jiwa, tetapi kebutuhan mendesak saat ini berupa bantuan tanggap darurat serta dukungan logistik dan peralatan. Ia mengimbau masyarakat untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir bandang, longsor, angin kencang hingga kebakaran lahan. “Segera melapor kepada aparat desa atau BPBD apabila terjadi kondisi darurat,” tandasnya. (hir)


