Bima (Suara NTB) – Warga Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, terpaksa memperbaiki secara mandiri akses jalan yang putus sekitar satu bulan terakhir. Langkah darurat itu dilakukan karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung antar desa. Sementara penanganan dari pemerintah daerah belum terealisasi.
Camat Lambitu, Hafid, S.Sos., mengatakan perbaikan dilakukan secara swadaya oleh warga dengan menimbun bagian jalan yang amblas, agar kendaraan kembali bisa melintas, meskipun masih terbatas. “Diperbaiki sendiri oleh warga, dengan ditimbun tanah di jalan yang amblas itu,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.
Kerusakan jalan terjadi akibat banjir yang melanda wilayah tersebut sekitar satu bulan lalu. Pada titik terdampak, badan jalan amblas sepanjang kurang lebih 4-5 meter setelah tergerus arus, sehingga akses utama penghubung Desa Teta dan Desa Kaowa sempat tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Hafid menyebutkan, kerusakan itu telah dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Bima sejak awal kejadian. Laporan disampaikan setelah akses utama masyarakat tidak lagi bisa dilalui kendaraan.
“Sudah kami laporkan ke Dinas PU Kabupaten Bima sejak satu bulan lalu kurang lebih, saat jalan itu rusak,” tuturnya.
Menurutnya, pihak Dinas PU telah merespons laporan tersebut, dengan rencana penanganan darurat. Namun hingga saat ini, realisasi di lapangan masih dinantikan, sehingga warga memilih melakukan perbaikan sementara secara mandiri.
“Katanya akan dilakukan penanganan darurat, tapi sampai dengan hari ini kita tunggu di sana belum ada, sampai warga yang perbaiki mandiri,” katanya.
Selama jalan terputus, kendaraan roda empat, termasuk ambulans dan kendaraan distribusi kebutuhan pokok, tidak dapat melintas. Kondisi itu memaksa warga memindahkan barang dan pasien secara manual di titik jalan yang rusak.
“Selama jalan tidak bisa dilewati mobil, seperti distribusi gas dan semacamnya dilakukan dititik jalan yang rusak itu, dipindahkan secara manual. Harus dioper kemarin itu. Tapi sekarang mobil sudah bisa melintas,” jelasnya.
Hafid menegaskan, jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama masyarakat di wilayah itu. Tidak adanya jalur alternatif membuat seluruh aktivitas warga bergantung pada kondisi jalan tersebut.
“Hanya satu-satunya di situ lewat itu. Satunya nggak ada jalan lain lagi,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah segera merealisasikan penanganan permanen, agar kerusakan serupa tidak terus berulang, mengingat kondisi tanah di wilayah tersebut relatif tidak stabil dan mudah tergerus banjir.
“Semoga segera ada penanganannya permanennya. Segera ditangani jalan itu. Selain iti jalan di Desa Teta itu jiga semoga diperhatikan dan diperbaiki karena kondisi tanah yang tidak stabil membuat mudah tergerus oleh banjir,” harapnya. (hir)

