Mataram (suarantb.com) – Aktivitas pertambangan dan investasi yang dilakukan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dinilai memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian NTB.
Hal ini terungkap dalam kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) berjudul Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Kajian tersebut menganalisis dampak kegiatan pertambangan, pembangunan smelter, dan program pemberdayaan masyarakat perusahaan selama periode 2018–2024.
Hasil kajian menunjukkan, aktivitas AMMAN menghasilkan tambahan output ekonomi di NTB mencapai Rp224,3 triliun dan berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi sebesar Rp147 triliun sepanjang periode penelitian.
Secara rata-rata kontribusi tersebut mencapai sekitar Rp21 triliun per tahun atau sekitar 13,3 persen dari total PDRB NTB. Bahkan pada 2024 saja, kontribusi AMMAN terhadap PDRB NTB mencapai Rp40,6 triliun atau setara 22,3 persen dari total PDRB provinsi.
Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, di Mataram, Kamis, 5 Maret 2026, mengatakan dampak kegiatan AMMAN tidak hanya terlihat pada angka makroekonomi, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, kebutuhan operasional perusahaan seperti penyediaan makanan bagi ribuan karyawan hingga kebutuhan logistik turut menggerakkan sektor pertanian, peternakan, transportasi, serta berbagai usaha jasa di daerah.
Selain itu, aktivitas perusahaan juga meningkatkan pendapatan rumah tangga di NTB. Sepanjang periode kajian, pendapatan pekerja rumah tangga di provinsi ini meningkat hingga Rp59 triliun atau rata-rata Rp8,4 triliun per tahun. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan, terutama di wilayah sekitar area operasional perusahaan.
Dari sisi ketenagakerjaan, kajian tersebut mencatat aktivitas AMMAN menciptakan efek berganda yang membuka rata-rata sekitar 36,5 ribu lapangan kerja setiap tahun di NTB. Pada 2024, total kesempatan kerja dari dampak langsung dan tidak langsung diperkirakan mencapai lebih dari 72 ribu pekerjaan di berbagai sektor seperti pangan, konstruksi, transportasi, dan jasa. (bul)

