Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kota Mataram meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak jalanan (anjal), gelandangan, dan pengemis (gepeng) di sejumlah titik strategis menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Asisten I Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Lalu Martawang, mengatakan tim dari Dinas Sosial akan meningkatkan pemantauan agar keberadaan anjal dan gepeng tidak mengganggu aktivitas masyarakat yang sedang mempersiapkan perayaan Lebaran.
Langkah tersebut diambil menyusul kecenderungan meningkatnya jumlah anak jalanan, gelandangan, dan pengemis yang beraktivitas di berbagai lokasi di Kota Mataram menjelang Idulfitri.
Menurut Martawang, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah kota karena dinilai dapat mengganggu estetika kota dan kenyamanan masyarakat yang menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan, maupun warga luar daerah yang datang berkunjung dan berbelanja.
“Kerena Kota Mataram merupakan salah satu pusat aktivitas masyarakat, baik untuk berbelanja maupun berlibur,” ujarnya pekan Kemarin.
Ia menjelaskan, keberadaan anjal dan gepeng kerap ditemukan di trotoar, lampu lalu lintas, pusat perbelanjaan, serta lokasi-lokasi keramaian lainnya. Namun, yang menjadi perhatian khusus pemerintah adalah adanya indikasi mobilisasi mereka dari luar wilayah ke dalam kota.
“Indikasinya, mereka berasal dari luar kota dan dimobilisasi,” jelasnya.
Untuk meminimalkan gangguan ketertiban umum, pemerintah kota menyiapkan sejumlah langkah koordinasi, salah satunya melakukan identifikasi karakter setiap kelompok karena masing-masing memiliki pola penanganan yang berbeda.
Selain itu, Dinas Sosial diperintahkan menggencarkan pemantauan melalui tim khusus di lapangan. Pemetaan lokasi pangkalan mereka juga dilakukan, terutama pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa, untuk memudahkan proses penertiban.
Pemerintah Kota Mataram, lanjut Martawang, berkomitmen mengambil langkah tegas di lapangan guna memastikan kondisi kota tetap kondusif hingga perayaan Lebaran.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Muzakkir Walad, mengatakan Tim Satuan Tugas (Satgas) hingga saat ini masih terus melakukan pemantauan di sejumlah titik yang berpotensi menjadi lokasi aktivitas anak jalanan dan pengemis, termasuk badut jalanan dan manusia silver.
“Dari pagi hingga malam, kami memastikan di beberapa titik publik tidak ada anak jalanan maupun pengemis,” ujarnya, Minggu (15/3).
Untuk mendukung pengawasan tersebut, Dinas Sosial menyiagakan sekitar 60 personel Satgas yang bertugas setiap hari, ditambah petugas piket di layanan sosial.
Beberapa lokasi yang diidentifikasi sebagai titik rawan aktivitas anjal dan gepeng antara lain di belakang Polresta Mataram di Jalan Seruni, Jalan Panji Tilar, kawasan Sandubaya, serta area pertokoan dan pusat perbelanjaan di Kota Mataram.
Muzakkir mengungkapkan, sejak awal Ramadan hingga saat ini pihaknya telah menertibkan sekitar 15 orang. Sebagian besar dari mereka berasal dari luar daerah, seperti Lombok Barat dan Jawa.
Secara keseluruhan, dari kelompok anak jalanan, badut, manusia silver, hingga gelandangan dan pengemis, sekitar 35 persen di antaranya berasal dari luar daerah, sedangkan sisanya merupakan warga Kota Mataram.
“Memang ada yang tinggal di beberapa wilayah kota, seperti badut yang mayoritas dari Bertais dan manusia silver dari Suweta,” ungkap mantan Camat Ampenan tersebut. (pan)

