Rabu, April 1, 2026

BerandaEKONOMIHKTI NTB Kawal Rantai Pasok MBG, Petani Lokal Didorong Jadi Pemasok Utama

HKTI NTB Kawal Rantai Pasok MBG, Petani Lokal Didorong Jadi Pemasok Utama

Mataram (Suara NTB) – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi peluang besar bagi petani di NTB. HKTI menegaskan pentingnya ekosistem rantai pasok yang kuat agar kebutuhan pangan terpenuhi secara berkelanjutan, dengan mengutamakan produk lokal.

Program MBG menjadi momentum strategis untuk memperkuat sektor pertanian di NTB. Demikian ditegaskan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi NTB, H. Willgo Zainar, SE., MBA.

Ia menegaskan bahwa program ini berpotensi besar menjadi penggerak utama rantai pasok produk pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Menurutnya, MBG berperan sebagai offtaker atau penyerap hasil pertanian dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Kebutuhan pangan dalam program tersebut mencakup berbagai komoditas utama seperti beras, sayur, buah, telur, daging, hingga ikan.

“Rantai pasok ini harus dibangun dalam satu ekosistem yang kuat. Ada kepastian suplai, kepastian harga, dan tentu mutu yang terjaga. Karena kebutuhan MBG ini sifatnya rutin, minimal lima sampai enam hari dalam seminggu,” ujarnya di Mataram, Selasa, 31 Maret 2026.

Willgo menjelaskan, dengan adanya kepastian permintaan, kebutuhan pangan untuk MBG dapat dihitung secara pasti berdasarkan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di NTB. Hal ini membuka peluang besar bagi petani lokal untuk menjadi pemasok utama jika mampu memenuhi standar yang ditetapkan.

HKTI, lanjutnya, akan mengambil peran strategis dalam memastikan petani mampu memenuhi standar tersebut, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Organisasi ini akan fokus pada penguatan rantai pasok sekaligus mendorong peningkatan kapasitas petani di daerah.

“Kami sifatnya advokasi. Teman-teman di kabupaten/kota akan kita dorong agar petani binaannya bisa memenuhi kebutuhan MBG ini, dan sebisa mungkin dipasok dari produksi lokal,” jelasnya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa peran pemerintah juga sangat krusial, khususnya melalui penyuluh pertanian. Pendampingan intensif diperlukan agar petani dapat memenuhi standar kualitas yang ditetapkan dalam program MBG.

Selain itu, Willgo menyambut positif berbagai langkah investasi yang mulai dilakukan di NTB, terutama pada sektor produksi daging ayam dan telur. Ia menilai hal ini sebagai langkah penting menuju kemandirian pangan daerah.

“Selama ini, sebagian kebutuhan seperti telur dan daging masih dipasok dari luar daerah. Dengan adanya investasi ini, kita harapkan NTB bisa mandiri, minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri,” katanya.

Lebih jauh, ia menyebut perputaran ekonomi dari program MBG di NTB cukup besar. Nilainya diperkirakan mencapai miliaran rupiah setiap hari, tergantung jumlah SPPG dan kebutuhan harian yang berjalan selama lima hingga enam hari dalam sepekan.

Perputaran ekonomi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, termasuk tenaga relawan dan pelaku distribusi pangan.
“Sebagian besar sumber pangan ini berasal dari petani. Artinya, petani menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program MBG,” tegasnya.

HKTI NTB pun menyatakan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan rantai pasok program MBG berjalan optimal. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh petani sebagai produsen utama pangan di daerah.(bul)

IKLAN
Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN


Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM




VIDEO