Dompu (Suara NTB) – Kasus campak di Kabupaten Dompu mengalami tren meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hingga akhir Maret, jumlah kasus yang dirawat di RSUD Dompu mencapai 250 lebih.
Bahkan seorang bayi usia 1,5 tahun yang kena campak dan terlambat dibawa ke RSUD Dompu, akhirnya meninggal dunia saat sampai di RS. Kabar ini ramai dibicarakan dan membuat khawatir. Terlebih dalam unggahan pemilik akun Facebook milik Sinta Bella pada Senin (30/3) siang itu menyertakan foto suasana IGD RSUD Dompu.
Kabid P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Maria Ulfah, M.Kes., menyampaikan, pasien anak usia 1,5 tahun yang meninggal dunia di IGD RSUD Dompu adalah pasien sepsis, karena abses submandibular, bukan pasien anak yang campak.
Hal itu juga diperkuat Kasi Humas dan Pemasaran RSUD Dompu, Muhammad Iradat, S.Gz., yang memastikan kabar anak usia 1,5 tahun meninggal di IGD RSUD Dompu, karena campak tidak benar. “Sudah dikonfirmasi ke IGD, tidak ada pasien campak yang meninggal. Yang meninggal dengan usia 1,5 tahun seperti yang diunggah itu dengan diagnose lain,” jawab Iradat.
Direktur RSUD Dompu, dr. Fitratul Ramadhan, Sp.P yang dihubungi terpisah mengakui, kasus campak sedang mengalami peningkatan. Penyakit akibat virus ini menyebar melalui droplet dan sangat mudah menular. Ketika kondisi tubuh kurang sehat, itulah yang menyebabkan seseorang mudah terjangkit. Penyakit ini menimbulkan gejala demam naik turun dan menyerang saluran pernapasan, pencernaan, dan mata.
Jumlah pasien yang ditangani RSUD Dompu hingga akhir Maret 2026, mencapai 250 pasien. Jumlah ini belum termasuk yang ditangani di puskesmas dan dokter praktik. “Menjaga kondisi tetap sehat dengan pola hidup bersih dan sehat, tidak terkontaminasi dengan penderita kunci agar tidak tertular virus campak. Imunisasi yang sedang digalakkan pemerintah sebagai Upaya agar tidak parah dampaknya Ketika terjangkit campak,” ingatnya. (ula)

