Praya (Suara NTB) – Persentase jumlah anak usia 0 sampai 5 tahun yang menderita stunting di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) secara perlahan terus menunjukkan penurunan. Di mana hingga akhir tahun 2025 lalu angka stunting di Loteng tercatat sebesar 9,81 persen atau sekitar tujuh ribu lebih anak. Dengan kasus stunting terbanyak ada di wilayah kerja Puskesmas Pringgarata, Jonggat, Batukliang serta Puskesmas Kopang.
Perilaku dan pola asuh anak yang keliru menjadi salah satu penyebab masih banyaknya kasus stunting di daerah ini. “Kasus stunting ini muncul bukan hanya karena faktor ekonomi saja. Tetapi juga karena pola asuh anak yang keliru,” ungkap Wakil Bupati (Wabup) Loteng Dr. H.M. Nursiah, S.Sos.,M.Si., kepada awak media di kantornya, Senin (6/4).
Atas dasar itu, banyak anak stunting yang ditemukan tidak hanya dari keluarga mampu. Namun orang tuanya ada yang menyandang status Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga tenaga kesehatan ada juga yang stunting.
Kesalahan pola asuh anak yang sering ditemukan pada kasus anak stunting berupa kebiasaan orang tua memberi anak-anaknya makan makanan ringan atau snack. Sementara makanan dengan gizi tinggi jarang diberikan, sehingga anak mengalami gizi kurang dan berlanjut menjadi stunting.
Kebiasaan memberikan makan snack pada anak tersebut nyambung dengan data rentan usia anak yang mengalami stunting di Loteng. Di mana anak yang mengalami stunting kebanyakan berusia antara 1 sampai 3 tahun.
“Di usia ini, anak-anak sudah mulai mengenal snack,” tambah Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng dr. Mamang Bagiansah, di tempat yang sama.
Untuk itu ke depan pendekatan penanganan kasus stunting di Loteng tidak hanya fokus pada pemberian bantuan makanan bergizi saja. Penguatan pengetahuan bagi orang tua juga akan lebih diintensifkan. Harapanya, para orang tua anak bisa memperbaiki pola asuh anaknya.
“Saat ini juga sedang kita persiapkan program kelas ibu hamil. Termasuk penguatan pada kader posyandu dan pendamping stunting,” imbuhnya.
Itu semua dilakukan dengan harapan bisa mempercepat upaya penanganan kasus stunting di daerah ini. Karena untuk tahun ini target Pemkab Loteng bisa menurunkan angka stunting hingga di bawah 9 persen. “Kita akui untuk mencapai target itu tidak mudah. Tetapi kita akan tetap berupa agar bisa mencapai target yang ada,” tandasnya. (kir)

