Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi NTB memprediksi bahwa El-Nino (fenomena suhu permukaan laut meningkat di atas rata-rata) akan berlangsung pada pertengahan 2026. Fenomena klimatologis ini berpotensi menyebabkan kemarau dan kekeringan berkepanjangan.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, mengatakan, bahwa saat ini, indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) masih dalam fase netral.
“Untuk saat ini indeks ENSO masih dalam fase Netral, diprediksi akan menuju Fase El-Nino pada pertengahan tahun 2026 nanti,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Adapun kondisi cuaca yang fluktuatif (hujan-panas) disebabkan karena di NTB sedang berada pada peralihan musim.
Sementara itu, untuk di wilayah NTB musim kemarau secara umum akan masuk pada, April 2026.
Adapun dampak El-Nino di wilayah NTB tahun ini adalah musim kemarau yang diprediksi akan lebih panjang dan lebih kering dari kondisi normalnya.
“Musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di tahun ini merupakan dampak dari El-Nino yang diprediksi akan terjadi di pertengahan tahun 2026,” tuturnya.
Karena itu, masyarakat diminta untuk mempersiapkan diri sedini mungkin menghadapi dampak kemarau dan kekeringan berkepanjangan yang akan terjadi.
Pada sektor pertanian, BMKG Stasiun Klimatologi NTB menyarankan masyarakat melakukan penyesuaian jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, membutuhkan lebih sedikit air (hemat air), serta memiliki siklus tanam yang pendek.
Sementara itu, Pemerintah Daerah dan masyarakat diimbau untuk menjaga ketersediaan sumber daya air secara optimal dan mengatur penggunaan irigasi secara efektif.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dini untuk menghadapi dampak gejala klimatologis tersebut. “Antisipasi potensi dampak kekeringan terhadap sektor kebersihan, kesehatan, serta potensi kebakaran hutan dan lahan,” sarannya. (sib)

