Senin, April 13, 2026

BerandaNTBLOMBOK UTARAKerusakan Gapura Islamic Center Tanjung Diklaim Tidak Signifikan

Kerusakan Gapura Islamic Center Tanjung Diklaim Tidak Signifikan

Tanjung (Suara NTB) – Kerusakan fondasi gapura Islamic Center, Masjid Baiturrahman Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU) diklaim hanya kerusakan minor dan tidak signifikan. Kerusakan tersebut bahkan sudah diperbaiki sejak Jumat (10/4/2026) atau hari di mana muncul retakan pada dinding fondasi gapura.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) program Penataan Lingkungan Gapura Islamic Center Tanjung, Yaya Fradana, ST., Senin (13/4/2026), mengungkapkan kerusakan dinding fondasi gapura disebabkan oleh turunnya elevasi tanah akibat intensitas hujan yang cukup tinggi pekan kemarin di wilayah Kecamatan Tanjung. Kendati sudah dilakukan pengerasan tanah fondasi, tetapi penurunan tanah dalam hitungan centi meter tak terhindarkan dipicu oleh adanya pengerukan tanah di kiri dan kanan bangunan menggunakan alat berat saat proyek mulai dikerjakan.

“Tanah di sekitar lembab akibat intensitas hujan tinggi menyebabkan tanah struktur bawah turun dan retak di titik kerusakan. Kita sudah cek bersama Tim Teknis Dinas PU dan Kontraktor. Kerusakan tidak signifikan,” ungkap Yaya.

Perbaikan pada titik kerusakan telah dilakukan oleh kontraktor sejak Jumat pekan kemarin. Proyek tersebut masih menjadi tanggung jawab kontraktor pada periode pemeliharaan hingga Juni 2026.
Yaya juga memastikan, selain pada titik tersebut, terdapat kerusakan minor berupa retak rambut pada tembok bagian depan. Item tersebut pun menjadi atensi PPK untuk dilakukan perbaikan oleh kontraktor.

“Retak rambut hal yang biasa terjadi pada tahap konstruksi. Itu juga diperbaiki di masa pemeliharaan. Kontraktor juga menjaminkan perbaikan sesuai kewajibannya,” tandas Yaya.

Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Lombok Utara, M. Indra Darmaji Asmar, ST., menegaskan Pemda melalui Dinas PUPR Perkim Kabupaten Lombok Utara (KLU) agar memastikan kekuatan struktur dan proses pengerjaan secara cermat. Bangunan tidak hanya melekat sebagai bagian dari tempat suci. Letak bangunan yang berada di pinggir jalan raya dan banyak dilalui jamaah, menuntut ketelitian dalam perencanaan dan pengerjaannya.

“Pihak Dinas PUPR harus sigap menyikapi hal-hal sperti ini, tidak hanya Islamic Center, tapi semua program fisik. Harus betul dicek betul, apakah kerusakan itu di akibatkan oleh kegagalan struktur atau kerusakan pada finishing ornamen,” ungkapnya.

Ia menegaskan, proyek pintu gerbang Islamic Centre menelan anggaran Rp800 juta. Jumlah tersebut tentu tidak serikit. Selain itu, pengerjaannya juga dilakukan di akhir tahun.

“Maka, kami dari Komisi III selalu mengingatkan kepada Pemda untuk segera mengeksekusi anggaran, khususnya pembangunan gedung supaya dikerjakan tidak menunggu akhir tahun. Ini penting dalam rangka meningkatkan kualitas pembangunan, maupun percepatan depak ekonomi di daerah,” tandasnya. (ari)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO