Senin, April 13, 2026

BerandaNTBLOMBOK TIMURJaring Burung, Tameng Sederhana Selamatkan Panen Padi

Jaring Burung, Tameng Sederhana Selamatkan Panen Padi

Hamparan sawah yang menguning keemasan di Tanak Gadang Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur kini tampak banyak yang berbeda. Di antaranya terbentang jaring-jaring biru tipis yang melindungi bulir padi dari ancaman koloni burung yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi para petani.

SORE itu, Gupran berdiri di pematang sawah miliknya. Pengalaman musim tanam sebelumnya jadi pelajaran berharga buatnya. Sebelum menggunakan jaring, ia harus siaga penuh di tengah sawah menunggu dan mengusir setiap burung yang hinggap. Perbedaannya jelas: sawah tanpa jaring tampak gundul, bulir-bulir padi raib dimakan burung.

“Dulu, kami hanya mengandalkan orang-orangan sawah. Sekarang, burung sudah tidak takut lagi,” ujar Gupran sambil tersenyum tipis mengenang masa-masa sulit sebelum jaring digunakan.
Ribuan burung datang dalam sekali serangan. Mereka hinggap bergelombang, menghabiskan bulir padi dari pagi hingga sore. Dalam sehari penuh, satu hektar sawah bisa kehilangan hasil hingga 1 ton padi.

“Normalnya, satu hektarE menghasilkan 12 ton. Kalau tidak pakai jaring, hanya dapat 10 ton,” jelasnya.

Dengan harga gabah sekitar Rp600 ribu per kuintal, kerugian akibat serangan burung bisa mencapai Rp6 juta per hektarE dalam satu musim tanam. Angka yang cukup besar untuk petani kecil seperti dirinya.

Jaring pelindung hadir sebagai solusi. Dipasang saat tanaman mulai mengeluarkan bunga hingga masa panen—sekitar satu bulan—jaring ini mampu melindungi padi hingga 100 persen dari serangan burung. Tak ada satu bulir pun yang terbuang sia-sia.

Untuk lahan seluas 1 hektare, petani perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp5 juta. Namun, jaring tersebut bisa dipakai hingga lima kali musim tanam. Gupran menghitung, investasi ini jauh lebih menguntungkan dibanding kehilangan hasil panen setiap musim.

“Jaringnya bisa dipakai tiga sampai empat musim tanam. Dikurangi biaya yang hilang karena serangan burung, petani masih untung,” hitungnya.

Yang menarik, jaring ini tidak mengganggu aktivitas penyemprotan pestisida. Petani tetap bisa merawat tanaman seperti biasa tanpa harus membuka jaring berkali-kali.

Gupran mengungkapkan bahwa tidak ada jenis padi yang kebal terhadap burung. Dulu, burung paling menyukai varietas IR64. Kini, varietas Ciherang yang banyak ditanam petani juga menjadi buruan utama.

“Beda suku, tapi semua dimakan burung. IR64 paling banyak disuka dulu, sekarang Ciherang juga sangat diburu,” tuturnya.

Meski jaring terbukti efektif, Gupran berharap ada perhatian lebih dari pemerintah. Investasi awal Rp5 juta per hektare masih terasa berat bagi sebagian petani kecil.

“Kami harap bisa dibantu untuk melindungi tanaman. Ini bukan hanya soal hasil panen, tapi juga ketahanan pangan kita bersama,” pungkasnya.

Dengan jaring burung yang mulai banyak diadopsi, para petani Tanak Gadang kini bisa bernapas lega. Sawah-sawah yang dulu sering gundul akibat serangan koloni burung, kini kembali menjanjikan panen melimpah—tanpa satu butir padi pun terbuang sia-sia.

Seperti kata Gupran di akhir perbincangan, “Sekarang, kami tidur lebih tenang. Burung boleh terbang bebas, tapi padi kami aman.” (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO