Minggu, Mei 3, 2026

BerandaNTBLOMBOK UTARAKrisis Air Gili Meno, BPBD KLU Lakukan Intervensi

Krisis Air Gili Meno, BPBD KLU Lakukan Intervensi

 

Tanjung (Suara NTB) – Hingga saat ini, masyarakat Gili Meno belum memiliki sumber air bersih pascapenutupan PT Berkat Air Laut (BAL) dan PT Gerbang NTB Emas, beberapa tahun lalu. Menyikapi hal tersebut, Pemda Lombok Utara melalui BPBD Kabupaten Lombok Utara (KLU), kembali mengalokasikan air bersih bagi warga.


Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lombok Utara, H. M. Zaldy Rahadian, ST., MT., Sabtu (2/5/2026) mengungkapkan, suplai air bersih untuk masyarakat Gili Meno, kembali akan dilakukan pemerintah daerah melalui BPBD. Sebelumnya, Pemda juga mengalokasikan anggaran untuk distribusi air melalui Dinas PUPR Perkim.


“Kita sudah melakukan koordinasi secara intensif dengan instansi di bawah, seperti Kecamatan dan Pemdes Gili Indah. Ini terkait pola distribusi dan penentuan titik-titik pengantaran di pulau,” ungkap Zaldy.


Ia menerangkan, hasil koordinasi dengan Pemdes menyepakati bahwa distribusi air bersih akan dilaksanakan dua kali dalam sepekan. Volume ini akan ditambah seiring waktu, khususnya ketika musim kemarau mengalami periode puncak pada kisaran bulan Agustus dan September. BMKG menyebutkan, puncak musim kemarau 2026 di NTB diprediksi terjadi pada Agustus dengan mencakup 85-90 persen wilayah.


Di wilayah Lombok Utara sendiri, pada akhir pekan bulan April kemarin, hujan masih turun secara parsial di beberapa kecamatan dan desa, termasuk kecamatan Pemenang dan Desa Gili Indah.
Menurut Zaldy, distribusi air bersih untuk Gili Meno disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anggaran yang disiapkan pemerintah daerah. Dalam hal ini, distribusi dalam satu kali perjalanan ke pulau mencapai 5 kubik, atau 10 kubik dalam satu pekan.


“Kita sudah coba kirim 3 kali seminggu, tetapi kapasitas daya tampung di titik distribusi Gili Meno tidak cukup, bahkan belum habis,” ujarnya.


Masyarakat Gili Meno, dinilai cukup arif memanfaatkan air tawar yang dikirim oleh pemerintah daerah. Dimana, air bersih digunakan untuk konsumsi dan memasak. Sedangkan keperluan mandi dan mencuci, masyarakat masih bisa memanfaatkan air sumur dangkal.


“Suplai untuk Gili Meno kita siapkan untuk tiga bulan, dengan catatan cuaca mendukung,” imbuhnya.


Kepala Pelaksana BPBD KLU juga mengingatkan semua pihak perihal potensi El Nino ekstrem pada 2026. Kekeringan dapat memicu kekhawatiran kekurangan air bersih, termasuk bagi warga di wilayah daratan Lombok Utara.


Selain masyarakat rumah tangga, Zaldy menilai penting bagi OPD teknis untuk mengimbau masyarakat khususnya petani. Jangan sampai menderita kerugian akibat gagal panen karena kurangnya sosialisasi akan dampak El Nino. (ari)



IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO