Giri Menang (Suara NTB) – Jumaah (55), warga Dusun Telaga Lebur, Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), hanya seorang pandai besi. Selama belasan tahun menjadi pandai besi, ia menggeluti usahanya dengan penuh ikhlas dan dedikasi. Jumaah patut menjadi inspirasi, berkat niat tulus, ikhlas dan ikhtiarnya disertai doa, dari hasil usahanya itu ia berkesempatan naik haji tahun 2026 ini.
ia membutuhkan perjuangan panjang. untuk menjadi tamu Allah. Ditemui di kediamannya, Minggu (3/5/2026), ayah lima anak itu tengah mengadakan syukuran keberangkatannya ke Baitullah. Warga mulai berdatangan ziarah ke rumahnya, sejak Sabtu (2/5/2026) lalu. Jumaah menuturkan perjuangan dalam mengais rezeki hingga bisa berangkat haji tahun ini.
Sambil menikmati kopi dan hidangan jajanan yang sudah disiapkan untuk tamu yang akan datang berziarah di tempatnya, ia mengawali cerita perjuangannya. Jumaah lahir di Dusun Telaga Lebur tahun 1971 silam, sejak masih usia kanak-kanak, ia sudah hobi dengan dunia perbesian. “Saya sudah mulai hobi besi (perbesian) sejak masih kecil-kecil, dulu senang buat pisau mainan,” tuturnya.
Hobinya itu menginspirasinya menekuni sebagai tukang pandai besi sejak tahun 2013 silam. Ketika itu ia menangkap peluang tambang emas sedang jaya-jayanya sehingga banyak warga yang memesan membuat betel besi. Bahkan, ketika itu ia kewalahan menerima pesanan.
Ada juga warga yang memesan dibuatkan cangkul, sabit dan parang. Tetapi yang paling mudah dikerjakan, adalah pembuatan betel karena tidak rumit dan tak butuh waktu terlalu lama. Untuk membuat 50 betel, tidak sampai memakan waktu 30 menit.
Dalam sekali pandai besi, ia bisa mencetak ratusan unit. Ia mengumpulkan semua pesanan warga agar lebih hemat waktu dan bisa dikerjakan sekaligus. “Kadang sampai tengah malam bahkan jam 3 dini hari saya kerjakan, saya hanya berhenti pada waktu Salat saja (laksanakan salat),” imbuhnya.
Saat itu, pemesanan betel besi bisa mencapai ratusan buah. Satu betel ditarik biaya Rp5000. Ia pun bisa meraup 6-7 juta per pekannya.
Uang itu disisihkan untuk biaya sekolah anaknya yang Mondok di Ponpes Mamba’ul Ulum Dasan Ketujur Gerung. Setiap hari Jumat ia mengantarkan uang sangu dan biaya Mondok ke putrinya dari hasil pandai besi. Seiring waktu, beberapa tahun terakhir pesanan menurun. Tetapi syukurnya ada saja warga yang memesan.
Dari hasil pandai besi ini pun, dia mampu menyekolahkan dua anaknya hingga tamat Aliyah, dan satu lagi sedang menempuh pendidikan S1. Dari sisa uang pendidikan dan biaya hidup sehari-hari, ia sisihkan untuk biaya berangkat haji. “Saya tabung (simpan dibank) tidak banyak, pertama saya tabung 1 juta, satu juta dua ratus, bahkan pernah saya tabung 200 ribu,” sebutnya.
Berkat usaha keras dan niat ingin naik haji, hampir setahun lebih ia menabung, akhirnya nomor kursinya untuk naik haji pun keluar. Karena waktu itu setorannya baru cukup 25.500.000 untuk bisa keluar nomor kursi. Bahkan tidak saja dipermudah dalam proses setoran naik haji, ia bersyukur bisa berangkat Umrah pada tahun 2023 juga dari hasil Pandai Besi.
“Alhamdulillah Saya umrah tahun 2023 lalu, tapi sebelumya, tahun 2013 silam saya mulai menyetor naik haji,” imbuhnya.
Hingga pelunasan biaya haji pun, ia mengaku lega karena dipermudah oleh Allah SWT. Di kediamannya setiap malam, sejak mulai dibuka ziarah haji, warga masyarakat selalu ramai datang melakukan tradisi selakaran dan ada juga zikir. Kegiatan serakalan digelar dengan harapan memohon doa dari jemaah agar diberikan kesehatan dan kemudahan serta kelancaran dalam menjalankan ibadah haji, dari sejak berangkat hingga pulang kembali ke Indonesia. (her)


