Mataram (Suara NTB) – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 24 Mataram, mengalami penurunan jumlah siswa baru dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, sekolah yang berada di Jalan Taman Sejahtera 3 No. 11, Pejeruk, Ampenan, Kota Mataram itu hanya menerima siswa baru sebanyak 30 orang. Kondisi penurunan ini terus terjadi diduga akibat sejumlah persoalan seperti letak sekolah yang kurang strategis, kalah bersaing dengan sekolah favorit hingga sejumlah sekolah yang menerima siswa lebih dari kuota yang tersedia.
“Ada sekitar dua atau tiga tahun ini yang mengalami kemunduran itu. Nah, itu alhamdulillah kalau yang 2025 ada 30 kita dapatnya,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMPN 24 Mataram, Nurul Purnamawati.
Pihaknya berupaya mempromosikan sekolah untuk meningkatkan semangat masyarakat menyekolahkan anak mereka ke SMPN 24 Mataram. Kendati demikian, penurunan jumlah siswa masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi sekolah.
Menurutnya, persoalan ini tidak lepas dari letak geografis sekolah yang dinilai kurang strategis. “Kita sudah pernah melakukan promosi seperti itu, kita memberikan brosur. Akan tetapi sekarang kendala kita ini karena kita berada di tengah-tengah ini, diapit oleh sekolah besar yang sudah punya nama,” ujarnya.
Meski tren jumlah siswa baru di sekolahnya terus menurun tiap tahun, Nurul tetap berharap ada progres penambahan tahun ini. Ia menargetkan, pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 dua rombongan belajar (Rombel) bisa terisi.
Nurul berharap, SPMB tahun ini menjadi ajang penerimaan siswa baru yang adil dan transparan. Seluruh sekolah juga diharapkan mengikuti regulasi dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan Juknis dari Dinas Pendidikan (Disdik).
“Maksud hati saya untuk yang peraturan ini kalau bisa kalau memang sudah memenuhi jumlah kuotanya misalnya anggaplah dari sekolah besar, mereka bisa menerima 300 (siswa) Kalau memang sudah 300, stop,” harap Nurul.
Sementara itu, jika ada siswa yang tidak tertampung di sekolah lain, ia berharap Disdik bisa mendistribusikannya ke sekolah yang kekurangan murid. “Contohnya di SMP 24, anggaplah mungkin rumahnya di Pejeruk atau di mana yang masih lebih dekat ke sini bisa dianjurkan ke sini walaupun mereka maunya sekolah di tempat itu,” pungkasnya. (sib)

