SATUAN Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di NTB untuk mengolah limbah sampah secara mandiri. Dorongan ini dinilai penting untuk mengurangi produksi dan penumpukan sampah yang berlebihan.
Ketua Satgas MBG NTB, Dr. H. Fathul Gani, MSi., mengatakan, sistem pengolahan sampah di dapur MBG diperlukan untuk memastikan sampah baik yang organik maupun non-organik bisa diolah dengan baik.
“Sebaiknya ada, karena sampah yang ada di SPPG maupun sampah yang ada setelah selesai dikonsumsi para penerima manfaat terutama di sekolah juga harus tertangani dengan baik,” ujarnya, Rabu (6/5).
Karena itu, Asisten I Setda NTB ini, menyarankan ada upaya memanfaatkan sampah melalui sistem pengolahan yang tersistematis serta mandiri di dapur MBG itu sendiri.
Menurutnya, sampah yang dihasilkan dari proses pembuatan menu makanan MBG dapat dipilah secara baik. Misalnya, pemilahan sampah organik seperti sampah rumah tangga maupun sampah non-organik seperti plastik dan sejenisnya.
“Kami sarankan ada pengolahan sampah mandiri untuk sampah organik. Sedangkan untuk sampah anorganik dihimpun atau dikelola oleh TPA (Tempat Pembuangan Akhir) secara terintegratif,” kata Fathul.
Pengolahan ini diharapkan dapat meminimalisasi produksi sampah yang berlebih dan berpotensi mengakibatkan masalah lanjutan ke depan.
Selain itu, daur-ulang sampah bekas produksi MBG juga diharapkan dapat memberi nilai tambah secara ekonomis.
Ia mencontohkan, bagaimana supaya sampah organik bisa diubah menjadi kompos yang memiliki manfaat tambahan dan bernilai jual. “Harapan kita sampah yang dihasilkan dapat memberikan nilai tambah seperti bisa menghasilkan kompos,” ujar mantan Asisten II Setda NTB ini. (sib)

