BerandaBIMADistabun Antisipasi Musim Kemarau

Distabun Antisipasi Musim Kemarau

Bima (Suara NTB) – Memasuki masa peralihan menuju musim kemarau, distribusi air irigasi di wilayah hilir Kabupaten Bima dikhawatirkan mulai tidak merata. Untuk mengantisipasi potensi kekurangan air, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distabun) Kabupaten Bima mengandalkan sistem perpompaan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, Ir. H. Muhammad Natsir, mengatakan jaringan irigasi teknis seperti Dam Pela dan Dam Sumi masih berfungsi normal. Sejauh ini, kondisi pertanian belum mengalami tekanan signifikan. Namun, penurunan debit air dikhawatirkan akan mulai dirasakan di lahan tadah hujan dan area yang tidak terjangkau jaringan irigasi teknis. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi menghambat pengolahan lahan dan menurunkan produktivitas saat kemarau berlangsung penuh.

“Kalau di daerah-daerah irigasi teknis ya, seperti Dam Pela, Dam Sumi, dan beberapa bangunan irigasi teknis strategis lainnya sebenarnya nggak terlalu masalah,” ujarnya, Selasa (5/5).

Namun, distribusi air belum merata hingga bagian akhir jaringan. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya mengembangkan irigasi perpompaan dan perpipaan dengan memanfaatkan potensi air tanah melalui sumur dangkal dan sumur dalam.

“Ada pengembangan irigasi perpipaan dan juga pengembangan irigasi perpompaan daerah-daerah yang kira-kira potensi airnya juga bagus untuk pengembangan air tanah ya kita atasi dengan sistem perpompaan,” katanya.

Program tersebut diklaim telah menjangkau hampir seluruh kecamatan. Di sisi lain, untuk perbaikan jaringan irigasi yang mengalami kerusakan, masih bergantung pada dukungan pemerintah pusat melalui program Jaringan Irigasi Tersier (JIT). Ia terus berkoordinasi untuk mendapatkan alokasi perbaikan dengan Kementerian Pertanian RI.

“Sekalipun (di pemda) terbatas, ada diluncurkan oleh Pemerintah Pusat itu dengan dukungan Jaringan Irigasi Tersier (JIT). Dan ini coba kita komunikasikan dengan pusat,” katanya.

Untuk menjaga produksi, pola tanam di lahan irigasi teknis tetap dipertahankan, termasuk panen padi hingga tiga kali setahun. Selain itu, pihaknya mulai mendorong diversifikasi komoditas sebagai langkah menghadapi musim kering. Sejumlah wilayah mengembangkan hortikultura dan tanaman bernilai ekonomi seperti bawang merah, cabai, dan tembakau.

“Cuma daerah-daerah yang sentra produksi bawang misalnya, kan berkembang sendiri pola tanamnya pengembangan hortikultura model bawang merah. Kemudian ada juga daerah-daerah seperti Lambu itu pengembangan cabai, kemudian ada juga pengembangan tembakau daerah-daerah seperti Madapangga itu sekarang sudah dimulai,” katanya. (hir)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO