Di tengah keterbatasan air saat musim kemarau, warga Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, justru menunjukkan langkah inovatif. Sejumlah petani mulai menerapkan konsep irigasi tetes (drip irrigation) sebagai alternatif pada kebun sayur dan tanaman palawija mereka.
Irigasi tetes merupakan metode pemberian air secara perlahan langsung ke zona akar tanaman melalui jaringan pipa berlubang kecil. Teknik ini dinilai lebih efisien karena meminimalkan air yang terbuang akibat penguapan maupun limpasan.
Inisiatif ini digerakkan oleh sekelompok petani muda setempat. Salah seorang petani, Yonk (42), menuturkan bahwa ide tersebut muncul setelah mereka mengikuti pelatihan pertanian lahan kering dan mempelajarinya melalui media sosial.
“Kami belajar bahwa air yang sedikit pun bisa dimanfaatkan secara maksimal jika diberikan tepat sasaran. Di sini musim kemarau panjang, sumur mulai surut. Dengan irigasi tetes, kami tetap bisa menanam cabai dan tomat tanpa boros air,” ujarnya, Selasa (6/5/2026).
Sistem yang digunakan terbilang sederhana. Pipa utama disambungkan ke tandon air yang dibangun lebih tinggi sekitar satu meter. Dari pipa tersebut, selang-selang kecil berlubang dialirkan sejajar dengan barisan tanaman. Air kemudian menetes perlahan, menjaga kelembapan tanah tanpa menyebabkan genangan.
Menurut Yonk, metode ini terbukti efektif. Lahan kering yang sebelumnya kurang produktif kini tetap bisa dimanfaatkan meski di musim kemarau. Ia mengaku, sebelum mengenal irigasi tetes, lahan pertaniannya kerap gagal panen karena keterbatasan air.
Untuk pengadaan peralatan irigasi tetes, petani melakukannya secara swadaya tanpa bantuan pemerintah setempat.
Sementara itu, Kepala Dusun Monek, Desa Suela, Rasyid Ridho, mengapresiasi langkah inovatif warganya. Ia menilai adaptasi teknologi tepat guna ini dapat membantu memperkuat ketahanan pangan desa saat musim kering.
“Kami tidak memiliki irigasi teknis dari bendungan, selama ini hanya mengandalkan tadah hujan. Sekarang ada alternatif baru yang bisa ditiru petani lain,” kata Ridho.
Ke depan, Ridho berencana menyosialisasikan penggunaan irigasi tetes kepada masyarakat, khususnya bagi pemilik lahan kering. Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan, termasuk dalam mengedukasi masyarakat untuk beralih ke penggunaan pupuk organik.
Menurutnya, sebagian petani masih memilih pupuk nonorganik karena dianggap lebih cepat mempercepat pertumbuhan dan masa panen. Namun, ia mencatat sudah ada beberapa petani yang mulai beralih ke pupuk organik.
Ridho berharap penerapan irigasi tetes dapat semakin luas guna menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pemanfaatan lahan kering. Ia juga berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, terutama dalam bentuk pendampingan teknis dan akses bahan baku yang lebih terjangkau.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan agar irigasi tetes ini bisa menjangkau lebih banyak petani di Lombok Timur,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Media Komunitas Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi, mengatakan bahwa lahan pertanian warga kini juga dimanfaatkan sebagai ruang kampanye oleh jurnalis warga perempuan dan para kreator konten. Mereka menyebarkan informasi tentang irigasi tetes melalui media sosial dan media alternatif.
“Ini cara kami mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan irigasi tetes di lahan kering,” kata Hajad.
Ia menambahkan, kampanye tersebut turut didukung oleh organisasi nonpemerintah internasional dari Uni Eropa dan Pena Bulu, yang fokus pada edukasi ekonomi hijau bagi masyarakat.
“Semoga upaya ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat dalam mengembangkan ekonomi hijau di Lombok Timur,” pungkasnya. (pan)

