BerandaNTBLOMBOK BARATBatu Kuta Kembangkan Desa Ramah Perempuan untuk Berdayakan Keluarga PMI

Batu Kuta Kembangkan Desa Ramah Perempuan untuk Berdayakan Keluarga PMI

Giri Menang (Suara NTB) – Lombok Barat dikenal sebagai daerah kantong Pekerja Migran Indonesia (PMI), karena pengiriman PMI ke luar negeri dari daerah ini cukup tinggi tiap tahunnya. Salah satu daerah yang menjadi kantong PMI adalah Desa Batu Kuta, Kecamatan Narmada, Lombok Barat.

Banyaknya masyarakat setempat yang merantau ke luar negeri menjadi PMI menimbulkan persoalan, rawan terjadinya perceraian dan pernikahan dini. Untuk meminimalisir persoalan ini, pihak desa setempat mencetuskan sebuah ide menjadikan Batu Kuta sebagai Desa Ramah Perempuan. Melalui Desa Ramah Perempuan ini, Pemdes Batu Kuta berupaya memberdayakan mantan PMI maupun keluarga PMI.

Kepala Desa Batu Kuta Edy Ansori, SE.,mengatakan, ide Desa Ramah Perempuan ini muncul sebagai bentuk perhatian Pemdes terhadap masyarakatnya yang cukup banyak berangkat ke luar negeri menjadi PMI atau TKI maupun TKW. PMI yang berangkat ini meninggalkan istri atau suami dan keluarganya, sehingga rawan terjadi persoalan di tengah keluarga tersebut.

“Karena isu perceraian itu banyak yang terjadi, karena itu kami membuat wadah (Desa Ramah Perempuan) di desa untuk mengumpulkan istri-istri PMI yang berangkat ke luar negeri dan eks PMI, kami berdayakan,” kata Edy, Senin (18/5/2026).

Pihaknya pun telah mulai mendata jumlah warga yang menjadi PMI, eks PMI maupun keluarga PMI. Dari data sementara, jumlahnya 120 orang, baik yang tercatat sebagai PMI, purna atau eks PMI.

Mereka diberdayakan melalui program-program, seperti usaha pembibitan untuk green house, budi daya unggas dan ikan lele. Program ini juga dikolaborasikan dengan program desa mandiri pangan yang dikembangkan Pemdes. “Sinergitas desa mandiri pangan dengan desa ramah perempuan,” imbuhnya.

Melalui sinergi program ini, ia berharap pemberdayaan warga ini bisa berkelanjutan. Di samping ia sangat berharap, Pemda juga memberikan perhatian kepada eks PMI, atau keluarga PMI tersebut.

Selain itu, pihaknya juga telah berkolaborasi dengan PKK desa untuk membina sekaligus memberdayakan keluarga PMI atau eks PMI. Mereka dilibatkan menjadi PKK dan kader posyandu.

“PKK Desa mengikuti lomba Hati-nya PKK, dan alhamdulillah dengan keberadaan (Desa Ramah Perempuan), Desa Batu Kuta sebagai pilot project oleh PKK,” imbuhnya.

Melalui intervensi yang dilakukan, pihaknya berharap istri dan keluarga PMI ini memiliki usaha. Ketika suaminya pulang dari luar negeri, mereka punya mata pencaharian tetap. Dengan begitu, mereka bisa mandiri dan tidak lagi berpikir mau kembali ke luar negeri menjadi TKI.

Bagi anak-anak yang ditinggal PMI atau anak eks PMI juga diperhatikan baik dari sisi pendidikan formal dan non–formal. Pihaknya nantinya bisa berkoordinasi dengan Kemensos dalam hal ini Sentra Paramita dan Pemkab untuk memasukkan mereka ke sekolah rakyat. Anak-anak PMI ini juga bisa diakses untuk mendapatkan KIP (Kartu Indonesia Pintar), maupun Bansos lainnya. “Apapun program pemerintah, mereka kita upayakan utamakan, supaya sejahtera, mereka tidak lagi balik menjadi TKI,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tenaga Kerja pada Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Lobar, Wardhatul Ainy, S.Pd., M.Pd., mengatakan, jumlah PMI yang berangkat ke luar negeri trennya meningkat. Tahun ini dari data yang dihimpun jumlah rekomendasi yang diterbitkan Dinas untuk calon PMI yang berangkat ke luar negeri sebanyak 1.293 orang.

“Terhitung sejak bulan Januari hingga April. Yang sudah kita terbitkan rekomendasi calon PMI dari kami itu 1.293 orang,” terangnya.

Pihaknya tidak bisa memastikan apakah calon PMI yang telah diterbitkan rekomendasinya ini berangkat atau tidak. Sebab prosesnya ke BP3MI. Sementara pihak dinas hanya menerbitkan rekomendasi. (her)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO