Mataram (Suara NTB) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi peluang bagi sektor pariwisata, khususnya dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB.
Namun, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M Saleh menegaskan promosi wisata tetap dilakukan secara konsisten tanpa bergantung pada fluktuasi ekonomi global.
Menurut Sahlan, melemahnya rupiah tidak bisa dilihat hanya dari sisi keuntungan bagi wisatawan asing yang memiliki daya beli lebih tinggi di Indonesia.
Ia menilai kondisi ini juga berkaitan dengan ketidakstabilan ekonomi global yang turut berdampak pada Indonesia.
“Tidak begitu cara mengukurnya. Melemahnya rupiah juga menandakan ekonomi global sedang tidak stabil. Tetapi bagi kami di BPPD, ada atau tidaknya pelemahan ekonomi, promosi wisata tetap menjadi komitmen yang harus dilakukan,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia mengatakan, BPPD NTB terus menjalankan agenda promosi rutin guna meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengikuti ajang internasional Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) pada 27-31 Mei 2026 di Bali.
Selain mengikuti pameran internasional tersebut, BPPD NTB juga mengundang buyer dari berbagai negara untuk datang langsung ke Lombok dan merasakan pengalaman wisata di NTB.
“Pada 1-2 Juni nanti kami mengundang buyer dari seluruh dunia untuk melihat langsung potensi wisata Lombok. Mereka akan menginap di Senggigi dan Mandalika sebagai bagian dari promosi destinasi unggulan NTB,” katanya.
Sahlan menilai minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke NTB hingga kini masih cukup tinggi meskipun situasi geopolitik dan ekonomi dunia sedang bergejolak. Bahkan, pihaknya terus berupaya memperluas pasar wisata baru agar jumlah kunjungan terus meningkat.
“Destinasi kita di NTB sangat menarik. Antusias wisatawan mancanegara tetap tinggi dan tidak mengurangi niat mereka untuk datang ke Lombok maupun NTB,” ujarnya.
Ia mengakui, penguatan dolar terhadap rupiah juga dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan asing karena biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah. Kondisi tersebut memungkinkan wisatawan tinggal lebih lama dengan anggaran yang sama.
“Kalau sebelumnya budget mereka hanya cukup untuk empat hari, sekarang bisa bertambah menjadi lima hari atau lebih. Ini menjadi bagian dari strategi promosi kita dalam menawarkan produk wisata NTB,” katanya.
Di sisi lain, Sahlan menyoroti pentingnya peningkatan atraksi wisata dan penyelenggaraan berbagai event untuk mendukung promosi pariwisata daerah. Menurutnya, kegiatan bertaraf lokal, nasional, hingga internasional perlu terus diperbanyak agar mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan.
Ia juga menegaskan pentingnya promosi langsung ke pasar potensial NTB, khususnya Australia dan Malaysia yang selama ini menjadi penyumbang wisatawan terbesar. (bul)


