Tanjung (Suara NTB) – Angka populasi ternak khususnya sapi di Kabupaten Lombok Utara (KLU) cukup besar, mencapai 68.500 ekor. Jumlah ini disikapi optimis dapat memenuhi kebutuhan hewan kurban pada perayaan Iduladha tahun ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, S.Pt., Jumat (22/5/2026) mengungkapkan, ketersediaan ternak untuk kebutuhan hari raya kurban dapat dipasok secara mandiri oleh peternak di Kabupaten Lombok Utara. Pasalnya, populasi ternak tergolong cukup besar.
“Populasi sapi di Lombok Utara sekitar 68.500 ekor, kambing sekitar 35.600 ekor. Dengan jumlah ini, kebutuhan hewan kurban dapat dipenuhi oleh peternak kita di daerah,” ungkap Tresnahadi.
Dikatakannya, populasi ternak khususnya sapi dan kambing relatif stabil setiap tahunnya meskipun terdapat banyak pemotongan pada acara-acara keagamaan. Konsistensi pasokan ternak ini tidak lepas dari kemandirian peternak untuk membeli kembali ternak sapi peliharaan setelah melakukan penjualan.
“Stok kita sangat melimpah. Jadi tidak ada kekhawatiran kekurangan hewan kurban di Lombok Utara,” imbuhnya.
Tresnahadi melanjutkan, jumlah ternak yang dipotong baik di RPH, Tempat Pemotongan Hewan (TPH) mandiri, maupun pemotongan di masjid-masjid saat hari raya kurban tergolong masih sedikit. Sebagai gambaran, angka ternak sapi yang dipotong pada tahun 2025 lalu mencapai 730 ekor atau setara 1,06 persen. Sedangkan untuk ternak kambing, jumlah yang dipotong untuk kurban mencapai 600 ekor atau setara 1,6 persen.
“Dibandingkan dengan populasi ternak yang ada, kebutuhan hewan kurban sebenarnya masih sedikit di angka sekitar 1 persen,” ujarnya.
Momentum hari raya kurban, sambung dia, menjadi peluang bagi peternak untuk memperoleh harga ternak yang lebih baik. Tidak jarang, petani mempersiapkan penggemukan untuk selanjutnya dijual guna memenuhi kebutuhan permintaan ternak kurban.
Ia menilai, transaksi jual beli melibatkan peternak mendorong perputaran ekonomi masyarakat di tingkat bawah. Dari hasil penjualan, peternak dapat membeli kembali sapi bakalan untuk selanjutnya dipelihara sebagai tabungan maupun investasi jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Tak hanya memastikan stok aman, Dinas Pertanian juga mulai memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban di lapangan. Setiap tahun, tim medis dan paramedis veteriner diterjunkan ke sejumlah titik penjualan ternak untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Pemeriksaan dilakukan bertahap. Sebelum disembelih diperiksa, setelah dipotong juga dicek lagi kondisi dagingnya,” demikian Tresnahadi. (ari)


