BerandaEKONOMINilai Tukar Rupiah Makin Anjlok, NTB “Rugi” Ekspor NonTambang Sangat Kecil

Nilai Tukar Rupiah Makin Anjlok, NTB “Rugi” Ekspor NonTambang Sangat Kecil

Mataram (Suara NTB) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menembus Rp18.026 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) sejatinya dapat menjadi peluang bagi daerah-daerah yang memiliki basis ekspor kuat. Namun, bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), manfaat dari kondisi tersebut dinilai belum optimal karena ekspor non-tambang masih sangat kecil dan belum berkembang secara signifikan.


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Dr. Wahyudin, mengatakan struktur ekspor NTB hingga saat ini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan, terutama produk hasil smelter. Akibatnya, keuntungan yang seharusnya bisa diperoleh dari melemahnya rupiah belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha di luar sektor tambang.


“Ekspor kita yang paling besar masih ditopang tambang dan hasil smelter. Memang sudah ada ekspor non-tambang seperti udang, tuna, mutiara dan beberapa produk lainnya, tetapi nilainya masih belum besar,” ujarnya kepada Suara NTB.


Menurut Wahyudin, kondisi kurs yang tinggi sebenarnya menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar ekspor. Dengan pembayaran menggunakan dolar AS, eksportir akan memperoleh nilai rupiah yang lebih besar dibandingkan saat kurs masih berada di level rendah.
“Kalau ekspor non-tambang bisa ditingkatkan, tentu kita mendapatkan manfaat dari pelemahan rupiah ini. Dengan dolar hampir Rp18 ribu, otomatis penerimaan dalam rupiah menjadi lebih besar,” katanya.


Wahyudin menilai NTB justru berpotensi kehilangan peluang jika tidak mampu meningkatkan ekspor komoditas non-tambang di tengah kondisi global saat ini.


“Kalau situasi seperti ini tidak dimanfaatkan, sebenarnya kita rugi. Karena ada peluang mendapatkan nilai rupiah yang lebih besar dari ekspor,” tegasnya.


Karena itu, BPS terus mendorong pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk memperluas pasar ekspor berbagai komoditas unggulan daerah. Bahkan, pihaknya telah menyampaikan hal tersebut kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB.


“Saya sudah sampaikan ke Perindag dan juga kepada para pengusaha agar mendorong lebih banyak komoditas diekspor. Kayak kain tenun kita juga, sudah potensial ekspor itu. Jangan hanya dijual di dalam negeri, supaya bisa mendapatkan manfaat dari nilai tukar yang sekarang,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengakui upaya meningkatkan ekspor non-tambang tidak mudah. Salah satu kendala utama yang masih dihadapi pelaku usaha adalah persoalan standar kualitas produk dan pengemasan.


“Untuk ekspor itu ada syarat-syarat tertentu. Tidak bisa sembarang ekspor. Ada standar kualitas, ada standar pengemasan dan berbagai ketentuan lainnya yang harus dipenuhi agar produk kita diterima di pasar internasional,” jelasnya.


Lebih jauh, Wahyudin menyoroti minimnya diversifikasi produk ekspor NTB. Menurutnya, komoditas yang selama ini diekspor masih terbatas pada produk-produk yang sama dari tahun ke tahun.


“Barang-barang yang diekspor masih itu-itu saja. Mutiara, udang, tuna dan beberapa komoditas lainnya. Produk industri kreatif dan kerajinan sebenarnya ada, seperti tenun dan kain-kain tradisional, tetapi belum mampu menembus pasar ekspor secara signifikan,” katanya.
Ia menilai tantangan terbesar bukan hanya pada sisi produksi, tetapi juga kemampuan membaca kebutuhan pasar internasional.


“Yang masih dicari adalah celah permintaan atau demand di luar negeri. Apakah ada pasar yang membutuhkan produk-produk kita dan bagaimana memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah,” ujarnya.


Menurut Wahyudin, sangat disayangkan apabila NTB tidak mampu memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan ekspor non-tambang.


“Kalau kondisi nilai tukar seperti sekarang tidak bisa dimanfaatkan, tentu sayang sekali,” katanya.
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB menunjukkan sepanjang Mei 2026 diterbitkan 23 Surat Keterangan Asal (SKA) dengan total nilai ekspor mencapai US$6.006.989,75.


Komoditas ekspor didominasi oleh anode dan cathode senilai US$5,29 juta yang diekspor ke Tiongkok dan Australia. Selain itu terdapat ekspor batu apung (pumice stone) senilai US$85.774,41 ke Tiongkok, mutiara senilai US$327.078,95 ke Tiongkok, India dan Hong Kong, serta frozen yellowfin tuna senilai US$278.745,75 ke Amerika Serikat. Komposisi ekspor masih menunjukkan dominasi komoditas berbasis sumber daya alam dan belum banyak melibatkan produk manufaktur maupun industri kreatif daerah.


Sementara itu, data terbaru BPS NTB mengenai perkembangan ekspor-impor April 2026 memperlihatkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertambangan.
Sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor NTB mencapai US$1,253 miliar, melonjak 2.121,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor April 2026 tercatat US$545,19 juta, naik 1.294,11 persen dibanding April 2025.


Dari total ekspor April tersebut, sebanyak 94,32 persen berasal dari kelompok barang galian dan tambang nonmigas dengan nilai mencapai US$514,21 juta. Komoditas terbesar berikutnya adalah tembaga sebesar US$21,59 juta atau 3,96 persen.


Sementara kontribusi sektor non-tambang relatif kecil. Ekspor perhiasan dan permata tercatat US$7,50 juta atau 1,38 persen, ikan dan udang sebesar US$918 ribu atau 0,17 persen, serta daging dan ikan olahan sebesar US$257 ribu atau 0,05 persen.


Mayoritas ekspor NTB juga masih bergantung pada satu pasar utama, yakni Tiongkok yang menyerap 94,37 persen total ekspor April 2026. Sisanya menuju Thailand, Hong Kong, Amerika Serikat, Jepang dan sejumlah negara lainnya.


Melihat kondisi ini, Wahyudin menilai penguatan sektor ekspor non-tambang menjadi kebutuhan mendesak agar NTB tidak hanya bergantung pada komoditas tambang, tetapi juga mampu memperoleh manfaat lebih besar ketika terjadi perubahan nilai tukar dan dinamika perdagangan global.


“Potensinya ada. Tinggal bagaimana kita memperkuat kualitas produk, pengemasan, serta membuka akses pasar internasional yang lebih luas untuk komoditas-komoditas unggulan NTB,” pungkasnya. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO