BerandaBREAKING NEWSMuseum NTB Pamerkan Kain Osap di Pameran Nasional Nusa Wastra

Museum NTB Pamerkan Kain Osap di Pameran Nasional Nusa Wastra

Yogyakarta (suarantb.com)

Museum Negeri NTB turut berpartisipasi dalam Pameran Nasional Nusa Wastra di Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Jumat, (5/6/2026).Pameran bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” memadukan tradisi, seni, dan teknologi untuk menghadirkan pengalaman yang edukatif dan inspiratif.

Sebanyak 85 koleksi wastra dan 22 benda penunjang koleksi yang dipamerkan, Museum NTB menampilkan kain Osap, salah satu warisan tenun ikat tradisional masyarakat Sasak di Pulau Lombok yang memiliki nilai budaya, filosofis, dan spiritual yang tinggi.

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, mengatakan bahwa Kain Osap merupakan tenun sakral yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi dan sistem kepercayaan masyarakat Sasak, khususnya dalam penghormatan terhadap leluhur serta ritual kematian.

“Kain Osap bukan sekedar pakaian, melainkan benda magis yang menjadi penanda transisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam kepercayaan adat Sasak,” ujarnya.

Melalui pameran tersebut, Nuralam berharap masyarakat semakin mengenal dan menghargai kekayaan warisan budaya tekstil Nusantara, khususnya tenun tradisional Sasak yang menyimpan nilai budaya dan identitas budaya.

Kain Osap sendiri memiliki warna sebagai simbol kekuatan magis, seperti warna dasar putih yang dipadukan dengan warna merah dan biru. Warna putih melambangkan kesucian, keikhlasan dan kepasrahan (husnul khotimah). Warna merah dan biru sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual atau perlindungan.

“Kami harap melalui pameran ini, kekayaan warisan budaya tekstil NTB dapat dikenal masyarakat luas di tingkat nasional,” harapnya.

Pameran yang menampilkan ragam wastra dan busana Nusantara, mulai dari kain kulit kayu (bark cloth), batik, hingga tenun, yang berasal dari 40 partisipan di buka resmi oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menyampaikan peran penting museum sebagai sarana perlindungan dan pelestarian Warisan Budaya Benda (WBB) dalam hal ini kain.

Menurutnya, kain-kain asal Indonesia sudah menjadi bahan pakaian di dunia internasional. Karena Wastra merupakan salah satu industri budaya yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan wisata, motor inovasi khususnya fashion, dan dapat menopang ekonomi bangsa.

“Sejak 2009, salah satu wastra kita, batik, telah dienkripsi UNESCO sebagai intangible cultural heritage of humanity,” tuturnya.

Dan tahun lalu, lanjutnya, pihaknya juga telah menyerahkan 4 helai Wastra (karya Edward Hutabarat) untuk melengkapi ekshibisi budaya Indonesia di markas besar UNESCO di Paris.

“Jadi Wastra adalah instrumen diplomasi budaya yang signifikan serta dapat mempererat hubungan serta kerjasama antar bangsa”, ujarnya.

Pameran ini diselenggarakan oleh Museum Sonobudoyo, Yogyakarta yang berlangsung dari 5 Juni hingga 29 Juli 2026.

Storyline pameran ini terbagi menjadi 7 subtema pembahasan di antaranya, benang-benang yang berjejalin, Wastra dan penanda, dari untaian benang menjadi mahakarya, kain-kain magis, Wastra wasesa, Wastra bercerita, dan Wastra Nusantara: warisan untuk masa depan.

Turut hadir delegasi peserta pada pameran nasional diantaranya, Museum Negeri Provinsi Papua, Museum Sriwijaya Sumatera Selatan, Museum Negeri Sumatera Selatan, Museum Ronggowarsito, Museum Negeri NTB, Museum Aceh, Museum Negeri Mulawarman, Museum Provinsi Kalimantan Barat, Museum Negeri Mpu Tantular, Museum Sang Nilai Utama Riau, Museum Sri Baduga Jawa Barat, UPA Museum Loka Budaya Uncen Jayapura, Museum Sri Baduga, dan Museum Negeri Banten. (r/ham)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO