Oleh: Muhamad Ihwan (Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB)
Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini memberi saya kesempatan untuk melihat kembali Nusa Tenggara Barat (NTB) dari sudut pandang yang berbeda. Bukan dari ruang rapat, bukan pula dari laporan statistik pembangunan, melainkan dari perjalanan lapangan yang mempertemukan saya dengan masyarakat, pemangku adat, bentang alam, dan warisan budaya yang hidup di tengah-tengah mereka.
Selama dua hari terakhir, saya menyusuri sebagian wilayah Pulau Lombok. Perjalanan dimulai dari Lombok Tengah, bertemu para pemangku adat di Bale Beleq Pejanggik, berdiskusi dengan pemerintah daerah, lalu berlanjut ke Lombok Timur hingga kawasan Pantai Pink dan Gua Jepang.
Di sela perjalanan itu, saya semakin memahami satu hal penting: sesungguhnya kekuatan terbesar NTB bukan hanya pada sumber daya alamnya, tetapi pada hubungan yang masih terjaga antara kebudayaan dan lingkungan hidup.
Sering kali kita memandang kebudayaan hanya sebagai tarian, musik, rumah adat, atau upacara tradisional. Padahal jauh sebelum istilah konservasi, keberlanjutan, dan pembangunan hijau dikenal, masyarakat Nusantara telah memiliki sistem budaya yang mengajarkan bagaimana manusia hidup selaras dengan alam.
Di NTB, nilai-nilai itu masih dapat ditemukan. Masyarakat Sasak mengenal berbagai aturan adat yang mengatur tata kelola ruang hidup. Masyarakat Samawa memiliki filosofi yang menempatkan kehormatan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Masyarakat Mbojo mewariskan nilai Maja Labo Dahu, rasa malu dan takut berbuat salah, termasuk terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan.
Nilai-nilai budaya tersebut sesungguhnya adalah fondasi ekologis yang diwariskan turun-temurun.Ketika kami berada di Bale Beleq Pejanggik, saya melihat bagaimana sebuah rumah adat tidak hanya menjadi simbol sejarah kerajaan, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan kolektif masyarakat. Di dalamnya tersimpan cara pandang tentang ruang, air, tanah, dan hubungan sosial yang membentuk peradaban Lombok selama ratusan tahun.
Kebudayaan mengajarkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian dari identitas dan keberlangsungan hidup manusia. Karena itu, menjaga budaya pada hakikatnya juga berarti menjaga lingkungan.Pesan itu semakin terasa ketika kami bergerak ke wilayah timur dan selatan Lombok.
Banyak orang berbicara tentang keindahan Pantai Pink. Namun yang saya lihat kali ini lebih dari sekadar pasir berwarna kemerahan dan laut biru yang memukau. Saya melihat kawasan yang semakin hijau. Pepohonan tumbuh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu saat saya berkunjung. Udara terasa lebih sejuk. Angin yang berhembus dari laut membawa kesejukan yang menenangkan.Perubahan itu menunjukkan bahwa alam memiliki kemampuan untuk pulih ketika diberi kesempatan.
Di kawasan yang sama terdapat Gua Jepang, sebuah peninggalan sejarah masa Perang Dunia II yang kini menjadi bagian dari cagar budaya NTB. Menariknya, kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa unik yang diyakini memiliki sebaran sangat terbatas di Lombok. Dalam satu lokasi, kita menemukan sejarah, budaya, geologi, dan keanekaragaman hayati yang hidup berdampingan.
Inilah bentuk nyata dari apa yang sering disebut sebagai mega diversity.NTB bukan hanya kaya budaya. NTB juga kaya bentang alam, kaya tradisi, kaya bahasa, kaya sejarah, dan kaya biodiversitas. Kekayaan itu saling terhubung membentuk sebuah ekosistem besar yang menjadi modal pembangunan daerah.
Dalam beberapa bulan terakhir saya juga berkesempatan melihat kawasan utara Lombok. Sulit untuk tidak mengagumi wilayah tersebut. Dari kaki Gunung Rinjani hingga kawasan Sembalun, lanskap yang terbentang sungguh luar biasa. Hamparan perbukitan hijau, lembah-lembah pertanian, sumber mata air, hutan pegunungan, dan desa-desa tradisional membentuk pemandangan yang dapat disejajarkan dengan destinasi kelas dunia.
Sembalun adalah kemewahan yang diberikan alam kepada NTB.Kemewahan itu bukan berupa gedung pencakar langit atau kawasan industri raksasa, melainkan lanskap yang masih relatif terjaga. Di sana, keindahan alam bertemu dengan tradisi masyarakat yang masih hidup. Di sana pula kita menemukan hubungan erat antara manusia dan lingkungannya.
Sementara itu, wilayah selatan dan timur Lombok menawarkan wajah yang berbeda. Kawasan ini menyimpan kekuatan besar pada sektor bahari, pesisir, budaya, dan geowisata. Pantai-pantai yang eksotis, bukit-bukit pesisir, kawasan konservasi, situs sejarah, kampung tradisional, hingga potensi ekonomi kreatif tersebar di banyak titik.
Potensinya sangat besar.Namun pengalaman dari berbagai daerah menunjukkan bahwa potensi besar tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan. Potensi hanya akan menjadi kesejahteraan jika dikelola secara kolaboratif.
Karena itu, masa depan NTB tidak boleh dibangun dengan pendekatan sektoral. Kebudayaan tidak bisa berjalan sendiri. Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Lingkungan hidup tidak bisa berjalan sendiri. Begitu pula ekonomi kreatif, pendidikan, dan investasi.Seluruhnya harus bergerak dalam satu orkestrasi pembangunan.
Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator. Masyarakat menjadi pemilik sekaligus pelaku utama. Perguruan tinggi menghadirkan riset dan inovasi. Komunitas budaya menjaga identitas lokal. Dunia usaha memperkuat rantai nilai ekonomi. Media menjadi jembatan informasi dan promosi.
Kolaborasi semacam inilah yang akan mengubah kekayaan budaya dan alam menjadi kesejahteraan masyarakat.
Konsep yang perlu dikembangkan adalah ekonomi budaya.Ekonomi budaya bukan sekadar menjual pertunjukan seni kepada wisatawan. Lebih dari itu, ekonomi budaya menjadikan warisan budaya sebagai sumber penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Ketika rumah adat terawat, masyarakat memperoleh manfaat dari kunjungan wisata. Ketika festival budaya berkembang, pelaku UMKM ikut tumbuh. Ketika produk kerajinan lokal dipromosikan, pendapatan keluarga meningkat. Ketika cerita sejarah dan tradisi dikemas secara menarik, generasi muda memiliki alasan untuk tetap bangga terhadap identitasnya.
Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama yang menikmati manfaatnya.
Inilah makna sesungguhnya dari visi NTB Makmur Mendunia.
Mendunia bukan berarti meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, mendunia justru dimulai dari kemampuan merawat dan mengembangkan keunikan yang kita miliki.
Dunia saat ini tidak mencari tempat yang seragam. Dunia mencari tempat yang otentik. Dunia mencari pengalaman yang berbeda. Dunia mencari budaya yang hidup, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang ramah.
Semua itu dimiliki oleh NTB.Perjalanan dua hari ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa masa depan NTB sangat cerah. Dari Bale Beleq Pejanggik hingga Pantai Pink, dari Sembalun hingga pesisir selatan dan timur Lombok, saya melihat modal besar yang dimiliki daerah ini.
Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa kekayaan tersebut tidak habis diwariskan sebagai cerita, tetapi terus hidup sebagai sumber kesejahteraan. Sebab ketika kebudayaan terjaga, lingkungan terlindungi. Ketika lingkungan terlindungi, ekonomi masyarakat tumbuh. Dan ketika masyarakat sejahtera, maka NTB akan benar-benar menjadi daerah yang makmur dan mendunia.



