Oleh: Dr. H. Ahsanul Halik (Kadis Kominfotik NTB)
Tidak semua peristiwa yang terjadi bersamaan memiliki hubungan sebab-akibat. Namun dalam ruang publik, keduanya sering kali diperlakukan seolah memiliki keterkaitan yang pasti. Ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat terhadap rupiah dan jumlah wisatawan mancanegara meningkat, kesimpulan pun dengan cepat bermunculan: wisatawan datang karena Indonesia menjadi lebih murah.
Sekilas, penjelasan tersebut terdengar logis. Ketika rupiah melemah, biaya hotel, transportasi, kuliner, dan berbagai aktivitas wisata memang menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Namun dunia pariwisata tidak bekerja sesederhana pergerakan kurs mata uang. Di balik setiap angka kunjungan wisatawan terdapat rangkaian faktor yang jauh lebih kompleks daripada sekadar selisih nilai tukar.
Karena itu, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pada April 2026 mencapai 8.686 orang atau meningkat 35,13 persen dibandingkan Maret 2026 yang sebanyak 6.428 orang, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah seberapa besar Dolar menguat, melainkan apa yang sesungguhnya mendorong peningkatan kunjungan tersebut.
Pertanyaan ini penting karena kenaikan wisatawan pada April 2026 terjadi ketika nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat masih berada pada kondisi yang relatif stabil dan belum mengalami tekanan signifikan sebagaimana yang kemudian menjadi perhatian publik pada bulan-bulan berikutnya. Dengan kata lain, peningkatan kunjungan wisatawan sudah terlihat lebih dahulu sebelum pelemahan rupiah menjadi isu yang dominan. Secara kronologis, fakta ini saja sudah menunjukkan bahwa menjadikan kurs sebagai penjelasan utama atas kenaikan wisatawan merupakan kesimpulan yang terlalu terburu-buru.
Dalam ilmu statistik terdapat prinsip yang sangat mendasar, yaitu correlation does not imply causation – korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Dua peristiwa dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan tanpa memiliki hubungan sebab-akibat yang langsung. Karena itu, kehadiran dua fenomena secara bersamaan tidak cukup untuk membuktikan bahwa salah satunya menjadi penyebab yang lain.
Memang benar, dalam teori ekonomi pariwisata, nilai tukar memiliki pengaruh terhadap daya saing destinasi. Ketika rupiah melemah, wisatawan asing memperoleh daya beli yang lebih besar untuk menikmati akomodasi, kuliner, maupun berbagai aktivitas wisata di Indonesia. Namun para ahli pariwisata tidak pernah menempatkan kurs sebagai satu-satunya faktor penentu keputusan perjalanan.
Profesor Geoffrey Crouch dan J.R. Brent Ritchie melalui teori Destination Competitiveness menjelaskan daya saing destinasi lebih banyak ditentukan oleh kualitas atraksi wisata, aksesibilitas, keamanan, infrastruktur, citra destinasi, serta pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan. Dengan kata lain, wisatawan tidak memilih sebuah destinasi hanya karena murah, melainkan karena destinasi tersebut menawarkan sesuatu yang bernilai untuk dikunjungi.
Lebih dari itu, keputusan berwisata internasional umumnya tidak dibuat secara spontan mengikuti pergerakan kurs harian. Sebagian besar wisatawan merencanakan perjalanan mereka jauh sebelum keberangkatan. Tiket pesawat dibeli berbulan-bulan sebelumnya, hotel telah dipesan lebih awal, dan agenda perjalanan telah disusun sejak lama. Seorang wisatawan yang berlibur ke Lombok pada Juli, misalnya, sangat mungkin telah membuat keputusan perjalanan sejak Januari atau Februari. Karena itu, menghubungkan lonjakan wisatawan dengan fluktuasi kurs jangka pendek sering kali mengabaikan bagaimana perilaku wisatawan sesungguhnya bekerja.
Untuk memahami kenaikan wisatawan mancanegara ke NTB, pendekatan yang lebih relevan justru dapat ditemukan dalam teori seasonality atau pola musiman pariwisata yang dikemukakan oleh Profesor Richard Butler. Dalam teori ini dijelaskan bahwa mobilitas wisatawan dunia sangat dipengaruhi oleh siklus musim, kalender pendidikan, hari libur, kondisi iklim, dan kebiasaan perjalanan masyarakat di negara asalnya. Faktor-faktor tersebut membentuk periode low season, shoulder season, dan high season yang berulang hampir setiap tahun.
Dalam konteks NTB, periode April hingga Agustus merupakan fase yang secara konsisten menunjukkan peningkatan aktivitas wisata internasional. Ini bukan fenomena baru, melainkan pola yang berulang. Australia, yang merupakan salah satu pasar penting bagi pariwisata Lombok, memasuki musim dingin dan masa libur sekolah pertengahan tahun.
Pada saat yang sama, masyarakat Eropa memasuki musim semi dan musim panas yang identik dengan peningkatan perjalanan wisata internasional. Ketika jutaan orang di berbagai belahan dunia mulai merencanakan liburan mereka, Lombok hadir sebagai destinasi tropis yang menawarkan cuaca hangat, pantai yang indah, budaya yang kaya, serta pengalaman wisata yang autentik.
Di sisi lain, kondisi alam NTB juga berada pada fase terbaiknya. Curah hujan menurun, langit lebih cerah, aktivitas wisata bahari menjadi lebih nyaman, dan jalur-jalur wisata alam dapat dinikmati secara optimal. Artinya, ketika wisatawan dunia sedang aktif bepergian, NTB juga sedang berada pada kondisi paling ideal untuk menerima kunjungan.
Data pariwisata yang dirilis BPS NTB dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan pola yang relatif konsisten. Pada 2024, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui BIZAM mencapai 8.122 orang pada Agustus setelah sebelumnya menunjukkan tren peningkatan sejak memasuki pertengahan tahun. Pada 2025, jumlah wisman pada April mencapai 7.812 orang atau naik 43,58 persen dibandingkan Maret. Sementara pada April 2026, jumlah wisman kembali meningkat menjadi 8.686 orang atau naik 35,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pola ini menunjukkan bahwa peningkatan kunjungan pada periode April hingga Agustus bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari siklus kunjungan yang berulang dari tahun ke tahun.
Menariknya, pola kenaikan tersebut tidak selalu berjalan searah dengan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada April 2026 misalnya, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara sudah terjadi ketika kurs rupiah belum mengalami tekanan signifikan sebagaimana yang kemudian menjadi perhatian publik pada bulan-bulan berikutnya. Fakta ini memperkuat pandangan bahwa faktor musiman, kalender liburan internasional, kondisi cuaca destinasi, serta perilaku perjalanan wisatawan global lebih konsisten menjelaskan peningkatan kunjungan dibandingkan hanya mengandalkan variabel kurs. Dalam banyak penelitian pariwisata internasional, pola perjalanan wisatawan memang lebih banyak dipengaruhi travel seasonality dibanding fluktuasi nilai tukar jangka pendek.
Tentu saja tidak ada yang menyangkal bahwa nilai tukar dapat memberikan pengaruh tertentu. Namun menjadikan pelemahan rupiah sebagai penjelasan utama atas peningkatan kunjungan wisatawan sama halnya dengan melihat satu bagian kecil dari sebuah gambar besar. Pariwisata adalah sebuah ekosistem yang dibentuk oleh banyak variabel yang saling berinteraksi: akses transportasi, promosi, keamanan, kualitas layanan, citra destinasi, kondisi cuaca, hingga perilaku wisatawan itu sendiri.
Karena itu, keberhasilan NTB meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara seharusnya dibaca secara lebih utuh. Capaian tersebut tidak lahir semata-mata dari perubahan kurs, melainkan dari daya tarik destinasi yang terus tumbuh, konektivitas yang semakin baik, promosi yang semakin efektif, serta kemampuan daerah menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan.
Pada akhirnya, wisatawan tidak datang ke Lombok untuk menukar dolar dengan rupiah. Mereka datang untuk menukar waktu liburnya dengan pengalaman yang berharga. Kurs mungkin membuat sebuah destinasi terasa lebih murah, tetapi hanya daya tarik destinasi yang mampu membuat wisatawan memilih datang.
Karena itu, ketika membaca kenaikan jumlah wisatawan mancanegara ke NTB, janganlah terjebak hanya pada pergerakan dolar. Lihatlah musim dunia, perilaku wisatawan global, kekuatan destinasi, dan kerja panjang yang dilakukan untuk membangun pariwisata daerah. Sebab di sanalah sesungguhnya alasan mengapa wisatawan memilih datang ke Nusa Tenggara Barat.


