Selong (Suara NTB) – Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pantai Selatan yang menelan anggaran lebih dari Rp120 miliar hingga saat ini dinilai belum mampu menjangkau seluruh titik rawan krisis air bersih di wilayah selatan Lombok Timur (Lotim). Meskipun sudah beroperasi, cakupan layanan masih terbatas dan menimbulkan kesenjangan akses air bagi sejumlah desa.
Sekretaris Camat Jerowaru, Suhirman, menjelaskan yang rawan krisis air bersih saat ini di wilayah Kecamatan Jerowaru asalah seluruh wilayah di Desa Sekaroh, sebagian wilayah Desa Seriwe, sebagian Desa Kwang Rundun.
“Untuk Desa Kwang Rundun, belum ada SPAM niki, tetapi untuk sementara masyarakat disana belum ada yg memohon bantuan air bersih,” terangnya.
Sekcam Jerowaru menambahkan kalau desa Sekaroh masyarakat rata rata beli air bersih. Beberapa titik sudah disurvei oleh tim yang akan memasangkan SPAM. “Mungkin akan segera mendapat penanganan dari PDAM,” imbuhnya
Untuk Desa Seriwe, sebagian wilayah sudah masuk SPAM Pantai Selatan seperti ke Temodo, Voleng, dan Seriwe. “Sekarang sedang dipasang yang menuju Semerang dan Kaliantan,” ucapnya lagi.
Untuk wilayah Desa Seriwe yang lain, belum masuk karena sebaran perumahan penduduk banyak di sana.
Pemdes setempat akan segera membuat surat untuk mohon bantuan air bersih untuk wilayah dusun yang belum ada SPAM. “Untuk Desa Sekaroh, seluruh dusun di sana butuh air bersih. Pemdes Sekaroh akan segera bersurat untuk permohonan bantuan air bersih sesuai jumlah KK perdusun di desa Sekaroh,” ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur PDAM Lombok Timur, Sopyan Hakim, mengungkapkan, target sambungan rumah (SR) dari SPAM selatan ditetapkan sebanyak 10.000 unit. Namun, realisasi baru mencapai sekitar 4.700 SR.
“Jangkauan SPAM selatan memang sudah sampai ke Ekas, dan beberapa desa yang selama ini kekurangan air sudah terlayani. Tetapi tidak dipungkiri, masih banyak yang belum,” ujar Sopyan, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, kapasitas intake 100 liter per detik sebenarnya ideal untuk melayani 7.500 hingga 8.000 SR. Saat ini, dengan hanya 4.700 SR, kondisi di lapangan justru mengalami kelebihan pasokan (over flow) di beberapa titik reservoir. Namun, kelebihan ini belum bisa langsung dimanfaatkan karena terbatasnya jaringan distribusi dan sambungan rumah.
“Kami bersyukur memasuki musim kemarau seperti sekarang, reservoir di selatan tidak sampai kosong, malah over flow. Tapi idealnya 100 liter per detik itu untuk 8.000 SR. Saat ini baru 4.700, jadi masih butuh tambahan banyak,” jelasnya.
PDAM bersama pemerintah daerah dan hibah menargetkan penambahan sekitar 3.700 SR lagi pada tahun ini. Jika berjalan lancar, angka 10.000 SR ditargetkan tercapai pada tahun 2026.
Sopyan menambahkan, pasokan air dari hulu di Kota Raja juga ditingkatkan menjadi 50 liter per detik. “Dulu di bulan yang sama sudah mulai kocar-kacir, sekarang dengan tambahan debit, kondisi relatif aman meski masih ada beberapa titik yang kekurangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur, Lalu Mulyadi, memastikan kesiapan menghadapi musim kemarau 2026. Ia menegaskan bahwa ancaman krisis air bersih tahun ini tidak separah tahun-tahun sebelumnya, sehingga masyarakat tidak perlu panik.
“Intensitasnya tidak sampai tinggi. Krisis air bersih yang ekstrem tidak akan terjadi seperti tahun lalu. Kami bersama BMKG juga sepakat menghapus istilah ‘Godzilla’ untuk kemarau ekstrem karena fenomena saat ini cenderung El Nino dengan awal musim yang lebih cepat,” tegasnya, Rabu (29/4/2026).
Meski ancaman kekeringan dinilai ringan hingga sedang, BPBD tetap mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan. Lombok Timur memiliki lahan hutan rawan kebakaran seluas 123 hektar, setara dengan potensi tahun-tahun sebelumnya. (rus)


