Mataram (Suara NTB) – Rencana pengoperasian pesawat amfibi (seaplane) di Bendungan Batujai, Kabupaten Lombok Tengah, terus menunjukkan perkembangan. Pemerintah Provinsi NTB bersama pihak investor dan instansi terkait saat ini masih menuntaskan berbagai persyaratan perizinan dan legalitas sebelum layanan tersebut dapat beroperasi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, Ervan Anwar, mengatakan proses persiapan berjalan secara simultan, baik terkait pemanfaatan kawasan Bendungan Batujai maupun titik operasional lainnya yang akan menjadi bagian dari rute penerbangan seaplane.
“Lebih cepat tentu lebih baik. Saat ini prosesnya semakin dekat karena berbagai persyaratan sedang diurus. Targetnya, kalau semua berjalan lancar, bisa pada akhir Juli atau awal Agustus,” ujar Ervan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat memaksakan percepatan operasional sebelum seluruh aspek legalitas terpenuhi. Menurutnya, keselamatan dan kepatuhan terhadap regulasi tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan transportasi udara tersebut.
“Kita tidak bisa memaksa karena semua legalitas harus terpenuhi terlebih dahulu,” katanya.
Ervan menjelaskan, proses perizinan tidak hanya menyangkut operasional penerbangan, tetapi juga pemanfaatan Bendungan Batujai sebagai lokasi lepas landas dan pendaratan pesawat amfibi. Untuk itu, koordinasi terus dilakukan dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk instansi yang berwenang mengelola infrastruktur bendungan.
Selain di NTB, proses perizinan juga sedang berlangsung untuk titik operasional lain di Bali yang akan menjadi bagian dari jaringan penerbangan seaplane tersebut.
“Pengurusan dilakukan secara bersamaan. Dari sisi bendungan, pemanfaatannya sedang diproses melalui instansi terkait. Di Bali juga sedang diurus. Kalau keduanya sudah mendapatkan persetujuan, maka penerbangan uji coba atau test flight bisa segera dilaksanakan,” jelasnya.
Rencana pengoperasian seaplane di Bendungan Batujai sebelumnya menjadi salah satu proyek strategis untuk mendukung konektivitas sektor pariwisata NTB. Kehadiran moda transportasi ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih cepat antara destinasi wisata di Lombok, Bali, dan kawasan wisata lainnya, sekaligus menghadirkan pengalaman perjalanan baru bagi wisatawan.
Pemprov NTB berharap seluruh proses perizinan dapat diselesaikan sesuai target sehingga penerbangan perdana pesawat amfibi tersebut dapat segera direalisasikan dan menjadi salah satu daya tarik baru bagi pengembangan pariwisata daerah. (bul)

