Selong (Suara NTB) – Api yang melahap hutan dan lahan Bukit Sempana Sembalun akhirnya bisa dipadamkan. Keganasan si jago merah melahap sebagian besar kawasan hingga 282 hektare.
Kepala Resort Sembalun Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Nusa Tenggara Barat (NTB), Saepandi, menjelaskan semua titik api sudah padam.
Proses pemadaman semua titik api diakui membutuhkan waktu lama. Hal ini karena tim gabungan kesulitan menjangkau semua titik api karena kondisi medan yang ekstrem.
“Medannya sangat curam, inilah yang menjadi kendala kitab terlambat (melakukan pemadaman-red) itu,” ucapnya. Disamping itu, alat yang digunakan untuk melakukan pemadaman ini sangat sederhana.
Diduga ulah Pemburu Liar
Saepandi menyebut penyebab kebakaran diduga dilakukan oleh para pemburu liar. Mengetahui insikasi itu dan guna mencegah kejadian serupa terulang, KPHL Rinjani Timur akan memantau terus kawasan hutan. Direncanakan, akan dibuatkan sekat bakar di titik-titik rawan tanpa merusak estetika alam.
Sekat bakar (firebreak) adalah jalur atau parit yang dibersihkan dari vegetasi (bahan bakar alami) di dalam kawasan hutan untuk memutus rantai penjalaran api. Jalur ini berfungsi strategis sebagai penyekat agar kebakaran hutan tidak meluas dan memudahkan petugas dalam melakukan pemadaman.
Selanjutnya, pascakebakaran diminta kepada pengelola Bukit Sempama untuk mengambil langkah tegas menutup sementara semua aktivitas pendakian dan perkemahan. Para pengunjung diminta tidak diizinkan dulu untuk mendaki atau sekadar ingin melancong.
Terpisah, Pengelola Bukit Sempana, Sipawarman, menyanggupi kebijakan KPHL Rinjani Timur untuk melakukan penutupan. Dia menjelaskan bahwa penutupan ini direncanakan berlangsung selama satu hingga dua pekan ke depan berdasarkan kesepakatan bersama seluruh tim pengelola.
“Kebijakan ini kita ambil karena kondisi pascakebakaran dinilai masih membahayakan kesehatan dan keselamatan pengunjung,” paparnya.
Pengelola mengaku tidak berani memberikan jaminan kesehatan pengunjung, baik tektok maupun berkemah. Terpantau, akibat kebakaran ini kawasan bukit menjadi kurang steril.
Disebutkan, semua areal perkemahan di puncak Bukit Sembama ini ludes terbakar. Syukurnya, vegetasi di sekitar lokasi kawasan camping ground atau tempat utama perkemahan didominasi pohon-pohon besar sehingga relatif relatif aman. “Api hanya membakar rumput-rumput di bagian bawah permukaan,” ungkapnya.
Selama masa penutupan, tim pengelola akan melakukan penataan ulang kawasan yang menjadi salah satu tempat wisata camping favorit di Sembalun tersebut. Pengelola akan menggelar kegiatan cleaning up kawasan. Beberapa fasilitas seperti petunjuk pendakian yang turut terbakar akan diperbaiki kembali. “Kita memperbaiki infrastruktur jalur pendakian yang rusak,” urainya.
Dijelaskan, perbaikan jalur ini penting karena banyak titik pendakian yang harus dihindari oleh pendaki. Pengelola akan kembali siap menerima pengunjung setelah kondisi dan situasi jalur pendakian aman. Jalur pendakian ini ditarget sudah selesai perbaikannya sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2026 mendatang. (rus)

