Tangis dan teriakan balita membelah kegaduhan di Posyandu Cempaka 2 di Jalan Tempit Dasan Tereng, Desa Mekarsari, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat pada, Kamis (12/6). Para kader posyandu dan tenaga kesehatan duduk di meja pelayanan. Mereka sibuk melayani ibu-ibu untuk menimbang berat badan balita, mengukur diameter tubuh serta mencatat temuan kasus.
Para kader posyandu sudah mengetahui apa yang mereka kerjakan masing-masing. Akan tetapi, pelayanan posyandu sedikit berbeda dengan posyandu lainnya. Bidan desa sibuk memotret buku kesehatan ibu dan anak (KIA) yang dibawa oleh ibu-ibu ke posyandu. Data yang tercatat akan dimasukan dalam aplikasi menggunakan Artificial Intelegensi (AI) – Deep Learning Neural Network.

Bidan Desa Mekarsari, Silviana Herlinda menjelaskan cara kerja aplikasi AI-OCR ke tamu undangan.
Aplikasi berbasis AI bertujuan untuk memprediksi tingkat kepatuhan masyarakat dan performa pelayanan kesehatan. Teknologi yang dikembangkan oleh peneliti melalui program KONEKSI menggabungkan keahlian yang saling melengkapi dari Indonesia dan Australia.
Silviana Herlinda, bidan desa cukup lihai menjelaskan cara penggunaan aplikasi tersebut. Ia memaparkan cara login, memasukan data, istirahat sampai log out dari aplikasi tersebut.
Aplikasi ini dinilai sangat membantu kerja-kerjanya sebagai bidan terutama berkaitan dengan administrasi. Selain itu kata Silviana, AI-OCR (Optical Character Recognition) lebih cepat dalam menentukan model prediksi kategori ibu hamil, skrinning resiko dan cara penanganannya. Cara aplikasi membaca data akan membantu mempermudah penanganan resiko terutama menyelamatkan janin di dalam kandungan. “Alhamdulillah, saya sangat terbantu dengan aplikasi ini terutama dari administrasi dan mendeteksi resiko ibu hamil,” terangnya.
Penggunaan aplikasi ini dinilai tidak rumit. Peneliti dari Summit Institute for Development sangat membantu mengajarkan penggunaan aplikasi secara teliti, sehingga mempelajari cara penggunaan aplikasi hanya sehari saja. “Tidak terlalu ribet dan cukup sehari saja saya sudah bisa menggunakan aplikasi AI-OCR ini,” katanya.
Sebagai bidan desa, resiko yang ditemukan pada ibu hamil adalah hypertensi atau darah tinggi, usia kehamilan lebih dari 35 tahun sehingga masuk resiko berat. Jika resiko berat akan muncul dalam aplikasi dampak yang muncul bagi ibu hamil, sehingga resiko yang muncul akan dikonsultasikan sesuai resiko tersebut. “Kalau resiko ringan maka cukup konsultasinya ke ibu hamil melakukan posyandu. Kalau resiko berat langsung merujuk ke faskes berikutnya,” ujarnya.
Yuni Dwi Setiyawati, Summit Institute for Development CEO menjelaskan, latar belakang aplikasi ini ini dibuat berdasarkan permasalahan administrasi yang terlalu banyak diisi di layanan posyandu. Akan tetapi, data yang diisi setiap bulan hanya berakhir di buku kartu ibu dan anak.
Pihaknya melihat peluang pencatatan di layanan masyarakat bisa menjadi informasi dan diprediksi menggunakan AI, agar faktor resiko ibu berdasarkan data rutin yang masuk dari layanan posyandu dan puskesmas tercatat. “Kami mencoba mengintegrasikan catatan rutin di dalam pelayanan ibu muncul sebagai informasi kepada ibu bidan, sehingga konsultasinya berdasarkan faktor resiko yang dialami ibu hamil,” jelasnya.
Prediksi data lokal yang digunakan mengcover dua kabupaten di Lombok Barat, Provinsi NTB dan Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Di NTB sebutnya, mengakomodir 15 puskesmas. Menurutnya, data diperlukan agar profile ibu hamil terkontrol. Artinya, kesenjangan pelayanan ditemukan diberikan pesan-pesan pengingat kepada bidan dan ibu hamil terhadap layanan yang dilakukan. “Nanti ada pesan tolong ibu lakukan USG. Selain itu, bidan bisa melihat faktor resiko ibu hamil,” jelasnya.
Ia mengakui stunting menjadi tantangan di Lombok Barat. Anak stunting dipengaruhi oleh berat badan rendah, sehingga bisa dilihat resiko BBR pada balita untuk segera ditangani. Penelitian yang diterapkan enam bulan ini perlu divalidasi kembali dengan data lokal.
Yuni menegaskan, aplikasi yang dikembangkan ini telah dikonsultasikan dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sebab, Kemenkes juga memiliki aplikasi untuk mencegah stunting seperti Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
Anomali Data
Data sering menjadi persoalan dalam penanganan kesehatan. Anomali data muncul karena sistem penilaian yang berbeda.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj.Sintha Agathia Iqbal mengatakan, aplikasi AI OCR yang dikembangkan di Kabupaten Lombok Barat, memiliki fungsi yang berbeda karena akan mempermudah tenaga kesehatan (bidan,red) dan kader dalam pelayanan kesehatan serta memprediksi resiko ibu hamil.
Sementara, sistem yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan RI seperti SSGI dan e-PPGBM sifatnya penilaian yang terus bergerak. “Kalau ini mempermudah bidan dan kader dalam pemeriksaan,” terangnya.
Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha mengakui, anomaly data menjadi pekerjaan rumah di pemerintah. Pasalnya, penilaian melalui SSGI memiliki dasar yang berbeda dengan e-PPGBM. Ia mencontohkan kasus stunting di Lombok Barat berdasarkan SSGI mencapai 23 persen.Sementara, penilaian menggunakan e-PPGBM 9,48 persen. Artinya, selisihnya cukup tinggi.
“Mungkin ada data-data yang berpengaruh betul terhadap penilaian. Kalau kader tepat menggunakan data ini, maka yang diinput akan bagus. Anomali terjadi karena berbeda standar datanya,” terangnya.
Menurutnya, penyajian data dasar harus memiliki kualitas yang sama sehingga pihaknya terus berupaya memperbaiki data tersebut.
Mempermudah Bidan dan Kader
Penggunaan aplikasi AI-OCR diharapkan Wabup Lombok Barat, Hj. Nurul Adha akan mempermudah bidan dan kader posyandu untuk mendata serta mempermudah deteksi terhadap ibu hamil. Kemudahan aplikasi membaca data tentu akan bermanfaat untuk menyelamatkan bayi. Artinya, bidan dan kader akan mudah mengidentifikasi gejala yang dialami ibu hamil. “Saya kira hasilnya akan sama kalau kualitas datanya sama,” jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri mengatakan, data e-PPGBM dan SSGI akan berbeda hasilnya muncul. Data e-PPGBM diinput bulanan atau surveilans yang tujuannya untuk intervensi by name by addres. Sedangkan, data SSGI sifatnya survey sekali setahun dan datanya diambil secara sampling. Kaitannya dengan cara pengambilan data baik cara timbang, pengukuran lingkar badan dan lain sebagainya.
Idealnya, perbedaan data antara SSGI dan e-PPGBM lebih sempit, sehingga jika terjadi kerenggangan data maka perlu dilakukan penguatan. “Kalau saya lihat ini aplikasi sistem kesehatan. Nanti kita dapatkan pencegahan dini atau deteksi lebih awal,” jelasnya.
Berdampak Positif
Kepala Desa Mekarsari, Sapinah mengaku merasa terbantu dengan adanya aplikasi Aplikasi AI-OCR dalam layanan posyandu. Artinya, ibu hamil di wilayahnya dapat lebih mudah terdeteksi gejala penyakitnya, sehingga lebih mudah diintervensi oleh bidan maupun kader posyandu. “Saya rasa ini sangat bermanfaat bagi kami di desa,” katanya.
Ia berharap program KONEKSI di Desa Mekarsari tetap berjalan, sehingga data ibu hamil dan balita terdata dengan baik serta menekan angka kematian ibu melahirkan. (cem)

