BerandaBUDAYA DAN HIBURANFILMFestival Film Lombok, Memantik Api Semangat Perfilman Lokal

Festival Film Lombok, Memantik Api Semangat Perfilman Lokal

Mataram (Suara NTB) – Sekelompok orang terlihat khusyuk menatap layar tancap di sebuah halaman studio di Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Senin, 16 Juni 2026. Mereka tengah menyimak beberapa film pendek garapan sineas Korea Selatan yang pernah tayang di sebuah festival film di negeri ginseng itu pada 2023. Adalah “Bioskop Keliling,” acara pemutaran film yang rutin diadakan Festival Film Lombok setiap bulannya.

Budi Triyono selaku Direktur Festival Film Lombok, menceritakan, Bioskop Keliling telah rutin terlaksana selama tujuh bulan terakhir. Di awal pemutaran, Bioskop Keliling menyajikan film-film pendek garapan sineas lokal. Namun, seiring berjalannya waktu, film yang diputar ikut beragam.

“Bulan lalu (Mei 2026), kami menayangkan film-film pendek dari Taiwan, sekarang dari Korea Selatan,” katanya.

Bioskop Keliling ternyata hanya satu dari delapan program yang dijalankan Lombok Film Festival. Festival film yang diinisiasi Yayasan Lombok Inspira.

Lahir dari Keresahan terhadap Kondisi Perfilman Lokal

Lahirnya Festival Film Lombok kata Budi tidak tiba-tiba. Semuanya dimulai dari 16 tahun lalu pada 2010 ketika Budi masih seorang mahasiswa di Universitas Bumigora Mataram.

“Saat itu saya punya keresahan, pegiat musik, tari ada wadahnya. Tetapi kalau berbicara film kita kebingungan,” ceritanya.

Dari keresahan itu, Budi melahirkan “Lombok Indie Film Festival” atau yang disingkat LIFF. Film-film yang ditayangkan di LIFF adalah hasil karya sineas NTB, mulai dari Mataram, Lombok Tengah, hingga Bima. LIFF selanjutnya rutin digelar dari 2010 hingga 2013.

Dari pagelaran film yang ia buat itu, ia menyadari bahwa NTB memiliki potensi untuk melahirkan pembuat film yang andal.

Sayangnya, LIFF harus berhenti terselenggara mengikuti Budi yang telah lulus kuliah serta banyaknya kesibukan lain setelah itu. Ditambah, generasi setelah dia di kampus tidak ada yang melanjutkan perjalanan LIFF.

“Sepuluh tahun kemudian, saya kembali ke komunitas film. Namun keadaannya tidak berubah dari sepuluh tahun yang lalu,” terangnya.

Pada 2023, orang-orang yang membuat film masih orang yang sama, dan wadah perfilman lokal semacam festival masih tak bisa ditemui, lanjutnya.

Pendiri Yayasan Lombok Inspira itu mengaku kembali merasakan keresahan yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Semangat semasa ia masih menjadi seorang mahasiswa kembali membuncah.

Keresahan itu kemudian ia tuangkan dengan mulai mengadakan lokakarya sinematografi di Mataram berkolaborasi dengan pemerintah setempat. Kolaborasi itu terus berlanjut hingga terciptalah Festival Film Sangkareang (FFS) yang digelar di tahun 2024-2025.

Menurutnya FFS berhasil mendulang kesuksesan. Hal itu dilihatnya dari bagaimana antusiasme pegiat dan penikmat film di NTB untuk memeriahkan festival film tersebut.

“Tapi di 2026 kami mengubah nama menjadi Festival Film Lombok untuk merubah branding,” tambahnya.

Saat ini, Festival Film Lombok sudah masuk ke jejaring festival film yang ada di Indonesia.

Delapan Program Festival Film Lombok untuk Industri Film Daerah

Budi menjelaskan bahwa saat ini Festival Film Lombok di bawah naungan Lombok Inspira telah menginisiasi delapan program untuk menggenjot industri perfilman NTB.

Delapan program itu diantaranya, Bioskop Keliling, Sangkareang Film Funding, Worksop Film, Kompetensi Film, Bazaar Industri Film, Kumpul Komunitas, Film Screening, dan Malam Anugerah.

Sejatinya delapan program itu kata Budi adalah wadah bagi pegiat film di NTB untuk berkarya, berkolaborasi, dan mengembangkan industri perfilman daerah.

Di Sangkareang Film Funding, para pegiat atau komunitas film bisa mendapatkan sokongan dana untuk membuat film mereka. Lalu lewat program Workshop Film, akan digelar roadshow ke berbagai kabupaten/kota di NTB guna meningkatkan kapasitas dan keterampilan pembuatan film.

Di Bazaar Industri Film, Budi tengah merencanakan membuat sebuah bazaar untuk mempertemukan berbagai pihak. “Nanti di baazar itu akan ada teman-teman dari rumah produksi film, aktor, lalu dari perlengkapan pembuatan film, jadi itu sebagai wadah mereka bertemu,” tuturnya.

Selanjutnya, program Kumpul Komunitas menjadi wadah pertemuan berbagai unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas film, praktisi, rumah produksi, pelaku usaha, hingga media massa untuk membahas strategi dan pengembangan industri film di NTB.

Terakhir, di Screening Film, Budi merencanakan akan menayakan film-film hasil karya sineas luar dan lokal. “Jadi nanti kami akan membuka submisi film-film lokal. Malam Anugerah adalah puncaknya. Kami akan memberikan penghargaan dari berbagai nominasi,” katanya.

Tidak Hanya Spesifik Film

Ia menuturkan bahwa Festival Film Lombok bukan hanya wadah karya yang spesifik ke film saja. Dalam penghargaan yang akan diberikan di Malam Anugerah, terdapat pula nominasi untuk musik video terbaik, video perpisahan sekolah terbaik, dan video pernikahan terbaik.

“Jadi ini merupakan perayaan segala bentuk karya audiovisual,” bebernya.

Pria pecinta film itu berharap, lewat Festival Film Lombok, NTB ke depannya dapat dilirik kancah perfilman internasional. Ia mengambil contoh bagaimana luar biasanya Minikino Film Festival di Bali, tetangga NTB.

“Kami barharap mungkin ke depannya orang-orang bisa mampir ke Lombok juga untuk festival film,” harapnya.

Dari langkah berani yang coba mulai ini, ia dengan penuh harap dapat mengggugah semangat sineas di NTB untuk terus berkarya.

“Saya cuman membayangkan, betapa bangganya kita ketika kita lihat ada film yang ditayangkan di bioskop pembuatnya dari lombok. Salah satu pembuktian bahwa kita punya loh sineas dari lokal,” tutupnya. (mit)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO