BerandaEKONOMIMenjemput Data Jujur dalam Kegiatan Sensus Ekonomi di Tengah Kesibukan Warga

Menjemput Data Jujur dalam Kegiatan Sensus Ekonomi di Tengah Kesibukan Warga

DI tengah aktivitas petani yang tengah sibuk di tengah sawah. Di tengah situasi kenaikan nilai tukar dolar atas rupiah yang makin keras. Badan Pusat Statistik (BPS) mulai melakukan Sensus Ekonomi tahun 2026. Kegiatan secara serentak dan nasional ini digelar di semua daerah, tak terkecuali di Kabupaten Lombok Timur (Lotim)

Sebanyak 1.336 petugas sensus telah diterjunkan ke seluruh penjuru daerah untuk mendata setiap denyut kegiatan ekonomi masyarakat—dari usaha mikro di pedesaan hingga perusahaan besar di perkotaan.

Dengan durasi pendataan yang berlangsung dari 15 Juni hingga 31 Agustus 2026, sensus tahun ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kali ini, pendataan mengintegrasikan tiga sektor sekaligus: pertanian, usaha mikro-kecil-menengah, hingga usaha besar. Tak hanya itu, usaha berbasis daring atau online yang kian marak juga menjadi sasaran pendataan.

Sekretaris Daerah Juaini Taofik saat pencanangan Sensus di Taman Tugu Selong, Minggu (21/6/2026) memberikan arahan tegas. Baginya, tantangan terbesar sensus bukan terletak pada angka, melainkan pada bagaimana petugas mampu membangun komunikasi yang hangat dengan warga saat mendatangi rumah demi rumah.

Sekda meminta kerja sama semua unsur pemerintah daerah dan masyarakat agar bersedia menerima petugas sensus dengan senang hati ketika mereka datang melakukan pendataan.

Ia mengingatkan, mayoritas masyarakat Lombok Timur—sekitar 87 persen—berada di wilayah pedesaan. Meski kondisi ini dinilai menjadi keuntungan karena tantangan sosial di desa tidak seberat perkotaan, Juaini tetap berpesan agar petugas mengedepankan kesabaran dan ketekunan.

“Kalau datang ke rumah warga, jangan baru satu atau dua menit langsung pergi. Bisa jadi pemilik rumah sedang memasak atau berada di belakang rumah. Jadi petugas harus sabar,” katanya.

Salah satu tantangan yang dihadapi petugas di lapangan adalah masih adanya persepsi di masyarakat yang mengaitkan pendataan pemerintah dengan bantuan sosial. Juaini meminta para petugas mampu menjelaskan secara komunikatif bahwa sensus ekonomi murni dilakukan untuk pencatatan data dan tidak berkaitan dengan penyaluran bantuan.

Menurutnya, terkadang masyarakat berpikir kalau ada pendataan berarti ada bantuan sosial atau bantuan pemerintah lainnya. Padahal ini hanya pendataan. “Menjadi petugas pendata itu harus kreatif menggali informasi agar warga menjawab dengan apa adanya,” jelasnya.

Ia mencontohkan pentingnya kejujuran dalam memberikan data ekonomi rumah tangga. “Jangan malah diganti jawab punya dua kambing, padahal punya dua ekor sapi,” tegasnya.

Juaini juga menyoroti tantangan teknis di lapangan, terutama menyesuaikan jadwal warga yang terkadang sedang berada di luar rumah atau tengah menjalankan aktivitas seperti musim panen tembakau. Karena itu, petugas diminta fleksibel dalam mengatur jadwal pendataan—mendatangi rumah warga lain apabila responden yang dituju belum berada di tempat.

Juaini mengajak Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lombok Timur, media lokal, serta berbagai kanal informasi publik untuk membantu menyosialisasikan pentingnya sensus ekonomi kepada masyarakat luas.

Senada dengan itu, Kepala BPS Kabupaten Lombok Timur, Sri Endah Wardanti, memastikan seluruh data yang diberikan masyarakat terjamin kerahasiaannya. “Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menerima petugas sensus ekonomi dan memberikan jawaban yang jujur. Kami memastikan seluruh data yang diberikan masyarakat terjamin kerahasiaannya,” ujarnya.

Sensus Ekonomi 2026 merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali untuk memotret kondisi dan struktur ekonomi Indonesia secara utuh. Hasilnya akan menjadi fondasi penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Dengan durasi pendataan yang masih panjang hingga akhir Agustus, optimisme menyelimuti para pemangku kepentingan. Ribuan petugas telah terlatih, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, dan masyarakat diharapkan menyambut dengan tangan terbuka. Sebab, dari data yang jujur dan akurat itulah masa depan ekonomi Lombok Timur akan dirancang—satu demi satu langkah, satu demi satu rumah, satu demi satu usaha. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO