BerandaNTBLenangguar-Lunyuk Kembali Molor dari Target

Lenangguar-Lunyuk Kembali Molor dari Target

Mataram (Suara NTB) – Proyek peningkatan segmen ruas jalan Lenangguar-Lunyuk yang menelan anggaran hingga Rp19 miliar belum rampung. Perbaikan yang dimulai sejak September 2025 lalu itu telah tiga kali perpanjangan waktu, dengan batas akhir pengerjaan pada akhir Mei 2026. Namun, hingga bulan Juni 2026, proyek itu tak kunjung diserahterimakan.


Molornya proyek tersebut menjadi sorotan Komisi IV DPRD NTB. Komisi IV DPRD NTB menyebut progres proyek tersebut hingga dengan saat ini masih berada di angka 98 persen. Tersisa sekitar 2 persen agar proyek tersebut bisa diserahterimakan.


Wakil Ketua Komisi IV DPRD NTB, Sudirsah Sujanto mengatakan akibat pekerjaan yang belum selesai tersebut, pembayaran kepada kontraktor senilai lebih dari Rp6 miliar masih ditahan karena proyek belum memasuki tahap serah terima.


Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengaku memang ada masalah dalam proses produksi aspal di Asphalt Mixing Plant (AMP) atau pabrik yang memproduksi material campuran aspal di Pulau Sumbawa. “Jadi karena ada masalah dalam produksi aspalnya jadi terkendala. Tapi InsyaAllah selesai kok, InsyaAllah,” ujarnya.


Menurutnya, terdapat dua segmen dalam proyek pengerjaan jalan Lenangguar-Lunyuk. Proyek yang belum tuntas ini merupakan segmen jalan yang bermasalah dengan kontraktor sejak tahun lalu. Sementara, segmen yang ditinjau Gubernur beberapa waktu lalu merupakan segmen lain yang dianggarkan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).


“Jadi saya lihat kemarin dikirimin foto. Ternyata foto yang dikirim foto dari proyek yang baru. Proyek baru yang lama itu tinggal marking jalannya,” katanya.


Mantan Dubes RI untuk Turki itu mengaku, pihaknya meminta proyek pengerjaan jalan itu benar-benar dikatakan tuntas jika marka dan penanda jalan, serta drainase benar-benar rampung. “Jadi nggak hanya sekedar jalannya selesai,” ucapnya.


Sebelumnya, Iqbal sempat turun langsung meninjau progres proyek pada Sabtu, 9 Mei 2026. Dalam kunjungannya, ia mengecek sejumlah titik pekerjaan, mulai dari kondisi badan jalan, area rawan longsor, sistem drainase, hingga penanganan lereng yang masih dikerjakan menggunakan alat berat.


Ruas Lenangguar–Lunyuk diketahui menjadi jalur penting penghubung wilayah selatan Kabupaten Sumbawa yang selama ini mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya distribusi hasil pertanian antarwilayah.


Di beberapa titik, terlihat alat berat melakukan pembersihan material longsor, pemasangan bronjong penahan tanah, serta pembangunan drainase untuk mengurangi risiko kerusakan jalan akibat pergeseran tanah dan aliran air saat musim hujan. Dalam peninjauan itu, Iqbal meminta seluruh pekerjaan dipercepat dan tidak kembali mengalami keterlambatan. Ia menargetkan proyek tersebut dapat diselesaikan sepenuhnya pada akhir Mei 2026.

Ia juga menyoroti kondisi lereng di sepanjang ruas jalan yang dinilai menjadi faktor utama kerusakan di sejumlah titik. Menurutnya, penanganan jalan tidak cukup hanya fokus pada pengaspalan, tetapi harus memperhatikan stabilitas lereng dan sistem pengaliran air.


Ia menambahkan, konsep pembangunan jalan ke depan harus lebih adaptif terhadap kondisi geografis dan potensi bencana di wilayah NTB. Minimnya drainase dan lemahnya mitigasi longsor disebut menjadi penyebab banyak ruas jalan cepat mengalami kerusakan.


“Sekarang ini drainase wajib dalam desain jalan. Jangan hanya membangun badan jalannya saja, tetapi juga harus menghitung aliran air, kondisi lereng, dan risiko longsor di sekitarnya,” pungkasnya. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO